Sudah
banyak cara tuhan melahirkan manusia dengan berbagai macam variasi dan
karakternya, dan itu semua murni atas kehendakNya. Namun kenapa semua manusia
protes waktu tuhan membuat skenarionya? Kalian masih belum paham kan apa yang
saya maksudkan, jadi manusia itu seringkali tidak bisa menempatkan diri pada
tempatnya, atau dalam bahasa UIN Malang dinamakan dzholim, itu sama seperti
halnya kalian ngintip cewek mandi tapi dibalik kaca. “bro, kamu ngintip istriku
mandi ya? Gak kok bro aku Cuma lihat kacanya.”!@#$%^&*(). dan kali ini saya
akan mencoba mendeskripsikan dosen yang dzholim.
Yang
pertama, dosen itu mesti terlihat bijaksana didepan mahasiswa, sebenarnya saya
juga gak paham konsep mengapa dosen selalu terlihat bijak didepan mahasiswa.
Mesti gayanya sok perhatian gitu kepada mahasiswanya, dengan penampilan baju
selalu rapid an celana kain serta kelakuannya yang kepo. Contoh “ gimana
kuliahnya nak, sudah selesai tugas yang diberikan bapak kemarin? Sekalian
pulsanya nak, korek apinya tidak juga, sudah punya kartu pelanggan, pakek nota
gak?”!@#$%^&*(), ini apalah, sudah kayak pegawai indomart. dan dosen
seperti ini banyak sekali sekarang.
Sebenarnya
gak apa-apa kalau dosen kayak gitu, wajarlah, sisi perhatian seorang guru
kepada muridnya, tapi bukan itu masalahnya, masalahnya yang dibegitukan
selalunya mahasiswa cewek/ mahasiswi, dan kami sebagai mahasiswa
terdiskriminasi, #nangis. Saya itu pernah lihat dosen keponya minta ampun
dengan mahasiswinya sementara itu mahasiswinya itu temen saya dan saya sudah
lama mengincarnya, bukan jadi pacar sih, Cuma mengincarnya saja,kemudian saya
gak betah dan langsung saya temui dan saya tanyakan, “bapak, bapak punya
hubungan apa dengan temen saya?” dosen saya menjawab “gak kok luqman saya Cuma
perhatian sama semua mahasiswa saya”, dan saya menjawab lagi “ ciyeeee bapak
perhatian ya? Tapi kenapa Cuma sama mahasiswi pak, kami juga butuh dong
diperhatiin sama bapak, kan kami mahasiswa bapak?” dan dosen saya menjawab “
saya kan sudah perhatian sama kalian semua”, dan saya menanggapinya “ah bapak,
omongan bapak kaya pasal 378 KUHP, semuanya modus”.
Yang
kedua, selalunya dosen itu tidak sopan terhadap peraturan, sebelumnya kalian
saya Tanya, pernah ada gak mahasiswa yang kalo masuk kampus pakek sandal, gak
pernah ada kan, di UIN banyaak, mungkin ini konsep pesantren ya, yang selalu andap
ashor , jadi kalo kemana-mana harus pakek sandal bahkan tidak memakai alas
kaki. Atau mungkin karena karma dari institusi itu sendiri.
Soalnya
dosen itu tidak pernah patuh terhadap peraturan, krena pernah Saya lihat waktu
ke KABAG umum kemahasiswaan semua dosen itu pakek sandal diruangannya, dan saya
kemudian berfikir mereka memakai sandal seenaknya saja diruangan sementara kami
harus memakai sepatu. Dan ini yang perlu menajdi catatan teman-teman bahwa
dewasa itu pikiran bukan fisik. Suatu ketika saya masuk keruangan KABAG pakek
sandal dan ada satpam yang menjaga diruangan tersebut, satpamnya juga pakek
sandal, dan dengan santainya dia berkata “mas, kok pakek sandal sampean mau
masuk kampus atau kesawah?” saya juga santai ngejawabnya “lha bapak mau jaga
kampus atau mau kesawah? Kan kita sama-sama pakek sandal jadi mari kita kesawah
bersama-sama saja pak, lumayan bapak disini Cuma berdiri nanti kalo penyakitan
gimana, kalo disawah kan enak bapak bias olahraga juga, bikin sehat lagi,
sekalian koreknya pak pulsanya iya atau gak pak pake nota gak, kembaliannya
disumbang boleh kan pak”?
Saya luqman Hakim terima kasih