Selasa, 12 Maret 2013

Pemira 2013 (uin maliki malang 2013)



Menyoal keapatisan mahasiswa UIN Malang dengan fenomena yang hari ini terjadi di bumi UIN, bahkan banyak yang menganggap ini hanyalah hal yang biasa, dan tidak akan memberikan dampak yang positif kepada mahasiswa pada umumnya.
Sebagai salah satu contoh gawe besar yang akan digelar adalah Pemilu raya mahasiswa (PEMIRA) yang hari ini telah melewati beberapa tahap, dan pada tanggal 18 april mendatang akan dilaksanakan pemilihan legeslatif dan eksekutif mahasiswa. Walaupun begitu tidak banyak mahasiswa UIN yang tau. Dan banyak yang cenderung tidak mau tahu, mengaca pada tahun kemarin jumlah pemilih tidak lebih dari 40% dari keseluruhan mahasiswa UIN Malang. Betapa sangat disayangkan ketika akan di adakan regenerasi kepengurusan republik mahasiswa tetapi sangat kurang kepedulian mahasiswa.
Oleh karenanya apakah benar sebagian besar mahasiswa UIN apatis dengan momen ini, ataukah mereka kecewa dan tidak merasa ada gunanya memilih yang tidak memberikan manfaat nyata buat mereka. Selain hal di atas perlu juga diperhatikan jumlah calon yang mendaftar hanya beberapa orang saja, dan cenderung dibeberapa kursi hanya ditempati satu calon, sehingga menjadikan PEMIRA terasa hampa karena hampir semua di tataran DEMA-F dan DEMA-U cenderung tidak ada calon yang ada sainganya.
Banyak spekulasi yang terjadi, dengan beberapa persoalan yang menahun di republik mahasiswa UIN Malang, dis-orientasi kepemimpinan dan dis-orientasi organisasi mahasiswa yang makin nyata dan tidak perlu kita munafik untuk mengungkapkanya, karena itu merupakan fakta banyak agenda yang dilakukan oleh aktifis kampus cenderung sebagai EO bukan menerapkan nilai substansi dalam setiap acara dan momen sehingga yang dirasakan mahasiswa hari ini hanya sebagai acara saja dan tidak menarik untuk di ikuti.
Sebagai refleksi dan evaluasi kita bersama dalam momen besar republik mahasiswa ini harus ada perubahan yang nyata. Yang kedepanya salah satu hal seperti ini tidak di anggap biasa saja dan tiada manfaatnya.
Terlepas dari semua itu, sebagai mahasiswa dan insan akademisi seharusnya perduli dengan segala aktifitas kemahasiswaan, karena itu merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa, sebagai miniatur pemerintahan yang dicover dalam republik mahasiswa yang nantinya bila digunakan dengan maksimal akan memberikan manfaat bagi semua mahasiswa.
Kontribusi berupa pemikiran dan tenaga merupakan gambaran real untuk mewujudkan good governance dalam kehidupan mahasiswa, dimulai dari partisipasi PEMIRA kemudian di teruskan dengan pengawalan mahasiswa yang menjabat di tataran ekskutif maupun yudikatif, yang nantinya akan memberikan tawaran program kerja selama kepengurusan kepada seluruh mahasiswa. Selain itu juga butuh dukungan dan partisipasi untuk ikut serta memberikan kemanfaatan kepada semuanya.
Semuanya menggambarkan kepedulian dan pro aktif terhadap dunia kemahasiswaan sebagai bentuk tanggung jawab kita sebagai generasi penerus bangsa ini, yang membutuhkan modal berupa pengalaman dan pelatihan untuk membentuk insan yang matang secara akademis dan profesiaonal yang nantinya siap diterjunkan dalam dunia real masyarakat, sehingga perubahan akan terasa dengan adanya mahasiswa sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat, yang mampu memberikan perubahan dan kemajuan terhadap kehidupan bangsa ini. Sehingga terciptalah dinamika kehidupan harmonis dan mensejahterakan.

Kontroversi dibalik sejarah Supersemar



 Berbicara mengenai supersemar atau surat perintah sebelas maret ini memang tidak ada habisnya karena banyak sekali kontradiksi mengenai presepsi supersemar, dari sekian kaum ada yang mengatakan bahwa sejarah ini hanya mitos dan dari sekian kaum yang lain mengatakan bahwa sejarah ini benar terjadi karena sejarah ini banyak keterkaitan dengan sejarah lain semisal sejarah G 30 S PKI dan sejarah lubang buaya serta sejarah yang lainnya.
            “...Soeharto adalah seorang ahli strategi yang handal. Tetapi ia bukan seorang ‘grand master’ yang mampu menghitung 10-15 langkah ke depan di papan catur. Ia lebih banyak beruntung karena piawai memanfaatkan kesempatan...”(Dr. Asvi Warman Adam). Salah satu pengamat sosial yang mengatakan bahwa supersemar adalah surat pemberontakan sebelas maret.
            Tepatnya pada tanggal 11 Maret 1966 kontroversi seputar Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966 seakan tidak pernah ada habisnya dibicarakan. Banyak yang menggugat bahwa Supersemar yang ditandangani oleh presiden Soekarno pada dini hari tersebut sebenarnya adalah surat mandat yang diberikan kepada Soeharto untuk mengamankan keadaan negara yang sedang gawat. Memang pada waktu itu kondisi sosial-politik sedang kacau balau pascapemberontakan G30 S/PKI. Karena itu, seharusnya Soeharto menyerahkan kembali mandat tersebut kepada presiden Soekarno setelah selesai menjalankan tugas.[1]
            Namun yang terjadi justru tidak demikian. Sekenario untuk menjatuhkan presiden Soekarno ternyata sudah direncanakan matang-matang. Des Alwi – mantan anggota Dewan Banteng pencetus PRRI yang juga dianggap sebagai gerakan separatis – adalah tokoh di balik layar yang berperan penting dalam peristiwa tersebut. Ia tidak hanya lihai dalam melakukan rekayasa penandatanganan Supersemar. Akan tetapi kepandaiannya dalam mempengaruhi MPR/DPR untuk mengangkat Soeharto sebagai presiden RI dengan menggunakan mandat yang disalahgunakan tersebut, merupakan “strategi jitu” yang terbukti “keampuhannya” dalam jangka waktu yang sangat panjang.
            Soeharto sendiri disini dianggap sebagai The Living Legend karena kepiawaiannya sebagai kostrad TNI-AD yang mampu menyusun strategi untuk meluruskan semua rencananya dan Soeharto dianggap sebagai orang yang berhasil pada saat itu karena mampu untuk mengambil kesempatan yang brilliant.
            Di sinilah kita melihat sosok Soeharto sebagai aktor di balik terjadinya peristiwa-peristiwa bersejarah yang telah dibengkokkan sedemikian rupa, termasuk di dalamnya adalah peristiwa Supersemar yang kontroversial itu.
            “pertarungan sejarah” yang senantiasa menghasilkan kekalahan dan kemenangan. Dalam konteks ini, Soeharto adalah salah satu pihak yang keluar sebagai pemenang (juara) dan berhak mendapatkan gelar sebagai The Living Legend. Sedangkan Soekarno hanya kurang beruntung karena sejatinya ia “kalah” dalam sebuah pertarungan yang diwarnai dengan kecurangan.
Kejeniusan Soeharto dalam upayanya menggulingkan presiden Soekarno sebenarnya hanya terletak pada kepiawaiannya dalam memanfaatkan sekecil apa pun setiap kesempatan. Instabilitas sosial-politik pascaserangan G30S/PKI, misalnya, dijadikan sebagai kesempatan emas untuk memaksa presiden Soekarno membuat dan menandatangani Supersemar sebagai surat mandat. Tetapi “keterpaksaan” presiden Soekarno dalam konteks ini bukan menunjukkan betapa ia sangat lemah, tidak pandai, dan kerdil dalam menghadapi serangan dari musuh yang tidak lain adalah anak buahnya sendiri. Sebab posisi Soekarno pada waktu itu benar-benar tertekan, ditodong, dan berada dalam kondisi “keterkepungan” yang memang sudah direkayasa sebelumnya.[2]
Peristiwa sejarah ini mungkin ruang gelap dibulan maret 1966 silam, karena banyak menyisakan kisah yang masih bertanda tangan besar untuk Indonesia ini. Karena pelaku sejarahnya sudah tidak ada lagi yang bisa diminta pertanggungjawaban lagi.
Banyak sekali pertentangan di peristiwa ini oleh sebab itu dengan harapan penuh penulis agar semua pembaca untuk memahami apa sebenarnya yang terjadi diindonesia karena memang sangat hangat bila diperbincangan. Semoga tuhan membuka mata hati kita.


[1] Al-faruq/Buletin/Peristiwa Sejarah  Peristiwa Sejarah Supersemar.htm
[2] Al-faruq/Buletin/Surat Perintah Sebelas Maret - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.htm