Menyoal keapatisan mahasiswa UIN Malang dengan fenomena yang hari
ini terjadi di bumi UIN, bahkan banyak yang menganggap ini hanyalah hal yang
biasa, dan tidak akan memberikan dampak yang positif kepada mahasiswa pada
umumnya.
Sebagai salah satu contoh gawe besar yang akan digelar adalah
Pemilu raya mahasiswa (PEMIRA) yang hari ini telah melewati beberapa tahap, dan
pada tanggal 18 april mendatang akan dilaksanakan pemilihan legeslatif dan
eksekutif mahasiswa. Walaupun begitu tidak banyak mahasiswa UIN yang tau. Dan
banyak yang cenderung tidak mau tahu, mengaca pada tahun kemarin jumlah pemilih
tidak lebih dari 40% dari keseluruhan mahasiswa UIN Malang. Betapa sangat
disayangkan ketika akan di adakan regenerasi kepengurusan republik mahasiswa
tetapi sangat kurang kepedulian mahasiswa.
Oleh karenanya apakah benar sebagian besar mahasiswa UIN apatis
dengan momen ini, ataukah mereka kecewa dan tidak merasa ada gunanya memilih
yang tidak memberikan manfaat nyata buat mereka. Selain hal di atas perlu juga
diperhatikan jumlah calon yang mendaftar hanya beberapa orang saja, dan
cenderung dibeberapa kursi hanya ditempati satu calon, sehingga menjadikan
PEMIRA terasa hampa karena hampir semua di tataran DEMA-F dan DEMA-U cenderung
tidak ada calon yang ada sainganya.
Banyak spekulasi yang terjadi, dengan beberapa persoalan yang
menahun di republik mahasiswa UIN Malang, dis-orientasi kepemimpinan dan
dis-orientasi organisasi mahasiswa yang makin nyata dan tidak perlu kita
munafik untuk mengungkapkanya, karena itu merupakan fakta banyak agenda yang
dilakukan oleh aktifis kampus cenderung sebagai EO bukan menerapkan nilai substansi
dalam setiap acara dan momen sehingga yang dirasakan mahasiswa hari ini hanya
sebagai acara saja dan tidak menarik untuk di ikuti.
Sebagai refleksi dan evaluasi kita bersama dalam momen besar republik
mahasiswa ini harus ada perubahan yang nyata. Yang kedepanya salah satu hal
seperti ini tidak di anggap biasa saja dan tiada manfaatnya.
Terlepas dari semua itu, sebagai mahasiswa dan insan akademisi seharusnya
perduli dengan segala aktifitas kemahasiswaan, karena itu merupakan bagian tak
terpisahkan dari kehidupan mahasiswa, sebagai miniatur pemerintahan yang dicover
dalam republik mahasiswa yang nantinya bila digunakan dengan maksimal akan
memberikan manfaat bagi semua mahasiswa.
Kontribusi berupa pemikiran dan tenaga merupakan gambaran real
untuk mewujudkan good governance dalam kehidupan mahasiswa, dimulai dari
partisipasi PEMIRA kemudian di teruskan dengan pengawalan mahasiswa yang
menjabat di tataran ekskutif maupun yudikatif, yang nantinya akan memberikan
tawaran program kerja selama kepengurusan kepada seluruh mahasiswa. Selain itu
juga butuh dukungan dan partisipasi untuk ikut serta memberikan kemanfaatan
kepada semuanya.
Semuanya menggambarkan kepedulian dan pro aktif terhadap dunia
kemahasiswaan sebagai bentuk tanggung jawab kita sebagai generasi penerus
bangsa ini, yang membutuhkan modal berupa pengalaman dan pelatihan untuk
membentuk insan yang matang secara akademis dan profesiaonal yang nantinya siap
diterjunkan dalam dunia real masyarakat, sehingga perubahan akan terasa dengan
adanya mahasiswa sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat, yang
mampu memberikan perubahan dan kemajuan terhadap kehidupan bangsa ini. Sehingga
terciptalah dinamika kehidupan harmonis dan mensejahterakan.