Kamis, 24 Januari 2013

Indahnya Menyelami Kota kesenian dan Kebudayaan (Yogyakarta)


Mungkin nama kota ini sudah tida asing lagi untuk telinga kita, terutama telinga orang-orang yang berasal dari jawa, Yogyakarta, kota yang indah dan penuh pesona kebudayaan Indonesia yang masih kental dan banyak menyimpan sejarah didalamnya.
Pada waktu itu selasa 15 januari 2013 perjalananku dan beberapa orang sahabatku yang sengaja untuk touring menelusuri kota Yogyakarta yang penuh dengan pesona budaya Indonesia yang tiada habisnya dimulai.
Perjalanan kami dimulai dari tugu yogyakarta atau Monumen Jogja Kembali (MONJALI) yang masih menyimpan sejuta kenangan tentang Indonesia dan banyak orang berkumpul disana dengan menggunakan pakaian adat jawa untuk melaksanakan acara sekaten atau dalam bahasa aslinya Syahadatain (jawa) yakni acara yang dilakukan untuk memperingati maulid nabi Muhammad SAW dalam adat jawa, acara ini dilakukan sampai hari berlangsungnya kelahiran Nabi Muhammad SAW yakni tanggal 26 Januari 2013.
Ramainya acara itu tidak hanya ditugu namun sampai di alun-alun Yogyakarta yang disana terdapat pasar malam, kamipun terus untuk menikmati indahnya hari pertama di Yogyakarta sampai pasar malam selesai.
Setelah itu kami meneruskan perjalanan kami hingga berada diperempatan sayyidan (tempat grup band saggy dog nongkrong) sebelum mereka terkenal, sampai disana kamipun masih tetap menikmati indahnya kota Yogyakarta yang masih kental dengan budaya jawanya tanpa terkontaminasi dengan budaya lain.
Hari kedua kami melanjutkan perjalanan ke Pakualam, pesarean yang penuh dengan angkringan yang dijual murah meriah dengan menu khasnya sego kucing (Nasi kucing), setelah makan kami melanjutkan perjalanan ke pantai yang terkenal dengan kekeramatannya yakni parang tritis dan parang kusumo karena berada tepat di selatan atau terkenal dengan pantai selatan.
Sehari penuh kami menikmati pemandangan dipantai parang tritis dan parang kusumo. Setelah puas kami melanjutkan untuk menelusuri indahnya kota Yogyakarta yakni di kawasan wisata Taman Pintar, ditaman pintar kami mendapat banyak pengetahuan didalamnya, yakni tentang pengetahuan terjadinya pembuatan alam semesta, kami diperkenalkan dengan filusuf-filusuf lama dengan berbagai macam penemuannya, seperti Albert Einstein, Plato dan Lain sebagainya.
Tidak hanya itu ditaman pintar juga kami diperkenalkan dengan sejarah Yogyakarta, Sejarah Sultan Hamengkubuwono mulai dari awal mula beliau lahir sampai dokumentasi kehidupannya. Kami melanjutkan kegiatan kami di taman pintar dengan menelusuri wahana yang sangat menarik yakni zona nuklir, disana kami diberitahu untuk menghetahui cara mengatasi bahaya nuklir, membuat nuklir sampai cara mengatasi bahaya jika terjadi nuklir.
Setelah puas menjelajahi Taman pintar kami melanjutkan perjalanan kami ke pusat pakaian yang sangat digemari oleh wisatawan-wisatawan Yogyakarta, yakni Malioboro, disana kami mebelikan oleh-oleh untuk keluarga kami yang ada dirumah serta membeli kenang-kenangan yang sangat murah dan terjangkau harganya.
Sehari penuh kami habiskan dimalioboro dan hal yang paling menarik adalah ketika kami menemui sekelompok pengamen yang mungkin sudah terkenal dikawasan malioboro dengan gaya khas dan lagunya yang sensasional, Kami menikmati alunan musik yang asli dari jawa tanpa ada campuran alat musik dari mancanegara yakni angklung, bas betot, gendang yang terbuat dari ban motor dan lain sebagainya. Namun hasil karya yang diciptakan sangat istimewa karena menghasilkan musik etnik jawa yang sangat kental.
Dan itu terbukti bahwa Yogyakarta masih kental dengan budaya jawanya dengan kesenian yang masih kental jawanya. Setelah puas dimalioboro kamipun bergegas untuk menghabiskan hari terakhir diyogyakarta dengan memperbanyak dokumentasi dikawasan kota kesenian tersebut yakni berada di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, di ISI Yogyakarta kami menemukan banyak kenangan dengan dokumentasi ditambah dengan kampus yang banyak sekali bangunan-bangunan yang penuh dengan kesenian dan berbagai macam penampilan yang disuguhkan oleh kampus seni tersebut.
Setelah puas untuk memperbanyak dokumentasi kamipun bergegas untuk melanjutkan perjalanan kami pulang kerumah kami yakni di malang jawa timur. Dan kamipun puas setelah kami sampai dimalang tempat tinggal kami pada hari minggu tanggal 20 januari 2013.

Kebudayaan Indonesia semakin Hilang

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.[1]
Kebudayaan didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Dengan demikian, kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk, rencana-rencana, dan strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian model-model kognitif yang dipunyai oleh manusia, dan digunakannya secara selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah-laku dan tindakan-tindakannya.
Kebudayaan dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya. Suatu kebudayaan merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak (termasuk juga berbagai peralatan yang dibuat oleh manusia).
Dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.
Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa.
 Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bagi Masyarakat Pendukungnya.
Sebuah persoalan dalam bidang budaya yang masih mendesak pemahaman kita ialah mengapa kebudayaan Indonesia sejak tahun 1980-an berada dalam keadaan kurang menggembirakan, ia semakin tergeser, tergusur, dan tersingkir dari pusat dan puncak perhatian dan kesibukan kita sehari-hari. Ini memang bukan persoalan baru, dan memang sudah ramai di perbincangkan pada awal 1980-an. [2]
Meninjau permasalahan kebudayaan diatas menjelaskan bahwa banyak budaya bangsa Indonesia yang hilang ditelan oleh tekhnologi dan pengaruh dari negara lain, seperti hilanganya lagu rasa saying-sayange yang diklaim orang malaysia, hilangnya desain grafis perak yang asli dari bali, diklaimnya tarian reog ponorogo dengan tarian barongan malaysia, produksi tempe yang diklaim oleh warga negara jepang, serta hilangnya makanan asli Indonesia oleh makanan luar negeri.
Musim temu budaya daerah sebagai penyangga budaya nasional bermunculan diberbagai kota seakan-akan budaya kita pada masa ini menghadapi kemunduran biarpun seorang pakar budaya masih penting. Seorang pakar budaya pada masa pra-Orde baru mungkin seperti seorang Iwan Fals, Abdurrahman Wahid, atau Laksamana Soedomo. Pada tahun 1970-an orang sudah mengeluh tentang kebudayaan, tapi pada waktu itu masih ada hiruk-pikuk perdebatan dan persaingan yang tak banyak tersisa.
Sejauh itu masih ada yang perlu di pertanyakan terhadap kesadaran akan wawasan Nusantara yang kadang masih diselimuti oleh chauvinis kedaerahan dan kebudayaan yang pada akhir-akhir ini akan kembali berona sejarah seperti ketika berkecamuknya masa renaisance dan aufklarung di benua barat tiga abad yang lalu. Apabila dengan kian terasanya arus globalisasi peradaban masyarakat industri maju, yang mengandalkan materialisme dan membawa wabah konsumerisme, penggusuran mau tak mau pasti terjadi. Banyak sendi budaya yang ditinggalkan.
Pejabat pemerintah yang punya kompetisi dengan kesenian tradisional supaya citra negara terangkat dimata dunia dan pencaturan International, masih berdiri dengan perjanjian (konvensi) lama, negara dan pejabat negera hanya memfungsikan kesenian Indonesia untuk kepentingan praktis, karena titik tolak pandangan dan sikapnya masih pada batas bahwa kesenian tradisional dan modern adalah instrumen kegiatan ritual.
Hal itu tidak membutuhkan perhatian dalam porsi yang besar, yang sama dengan sektor-sektor kehidupan lain tidakkah jatah untuk kebudayaan hanya 2,7 persen dari rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) pada berita terakhir.
Kebudayaan masih dianggap instrumen yang berfungsi praktis, umpamanya untuk tujuan pelancongan (turisme) bagi peningkatan sumber devisa negara, para seniman yang mengembangkan etos kebudayaan masih bergulat dengan banyak pihak kearah perbaikan kesenian Indonesia di masa depan. Raudal Tanjung Banua mengatakan, bahwa tataran kebudayaan dengan kemungkinan nasionalisme kebudayaan tidak terlalu digali, bahkan cenderung dinibsikan.
Akan tetapi dari proyek nasionalisme yang mengutamakan arus negara itu, bangsa-bangsa diringkus menjadi sekedar suku bangsa. Kesalahpahaman seperti itu, merupakan akibat dominasi tradisi romantisme yang terlalu menekankan aspek individual budayawan dan nilainya. Mengabaikan kebudayaan sebagai pranata sosial. menyebut nasib pranata kebudayaan dianggap sebagai serangan pribadi terhadap para budayawan.
Akibatnya, budayawan yang berwawasan sempit menyangkal terjadinya gejala pengkerdilan dan penggusuran kebudayaan dalam pembangunan. Karena merasa di serang, mereka membela diri dan membela status quo dengan mengatakan kebudayaan sekarang baik- baik saja, kalau ada penilaian yang negatif atas perkembangan budaya, maka itu di anggap sebagai kegagalan atau ketololan para kritikus budaya yang kurang paham kepada kebudayaan.
Menindaklanjuti hal seperti ini seharusnya bangsa Indonesia harus melakukan suatu hal yang masih bisa mempertahankan kebudayaan yang asli dari orang indnesia yang harus dijaga sampai akhir hayat. Dan hal yang seperti inilah yang masih ditunggu oleh bangsa indonesia agar tidak terjadi pergeseran pemikiran dan beralih dari kebudayaan asli Indonesia.


[1] Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Kongres Kebudayaan 1991: Kebudayaan Nasional Kini dan di Masa Depan

Rabu, 09 Januari 2013

Sejarah Hari Ibu di Indonesia dan Implementasinya dalam Konteks Kekinian


Hari Ibu merupakan hari dimana kaum perempuan dimanja dan mempunyai kebebasan dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung yang kemudian dikenal sebagai Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto.
Dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Kongres berikutnya diadakan di Jakarta dan Bandung. Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain.
Peristiwa itu merupakan salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.
Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara, perlibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, masalah perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan lain-lain.
Adapun penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Dan Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini. Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama.
Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung. Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1950. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa.
Pada kongres di Bandung tahun 1952 diusulkan untuk dibuatnya sebuah monumen, setahun berikutnya diletakkan batu pertama oleh Ibu Sukanto (ketua kongres pertama) untuk pembangunan Balai Srikandi dan diresmikan oleh menteri Maria Ulfah tahun 1956. Akhirnya pada tahun 1983 Presiden Soeharto meresmikan keseluruhan kompleks monumen menjadi Mandala Bhakti Wanitatama di Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta.
Dan di hari ibu masa kini....
Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali. Bagi sang surya menyinari dunia. Ketika kita duduk di bangku taman kanak-kanak sering kita diajak para ibu guru untuk menyanyikan lagu tersebut sebagai wujud cinta kasih kita terhadap seorang ibu yang melahirkan kita ke dunia. Ibu merupakan sosokyang sangat kita cintai dan kita hormati. Kasih ibu sepanjang masa,kasih anak sepanjang galah. Terkadang kita sebagai anak sering menyakiti secara tidak sengaja baik secra lisan maupun perbuatan. Di moment yang spesial ini peluklah ibu-ibu kalian. Cium keningnya.Berbahagialah jika anda masih memiliki seorang ibu. Seandainya ibu anda sudah tiada kunjungilah pusara almarhum ibu anda dan kirimkanlah untaian doa dari hati ada yang paling tulus.[1]
Ibu adalah orang yang melahirkan kita di dunia. ibu adalah orang yang tidak kenal lelah untuk menjaga kita siang dan malam. ibu adalah sesosok pahlawan tanpa tanda jasa atas anak-anaknya. mendidik kita dikala kecil, memberikan kasih sayang yang kita butuhkan.
Maka dari itu, Islam sangat menjunjung tinggi hak-hak setiap orang, lebih khususnya seorang ibu atas anaknya. memberikan kepada semua sesuai kadar porsinya.
diantaranya adalah Islam memerintahkan kepada seorang anak untuk berbakti dan taat kepada orang tua. akan tetapi Islam memerintahkan kepada seorang anak untuk lebih berbakti dan taat kepada ibu 3 (tiga) kali lipat dibandingkan bakti dan ketaatan kepada ayah. Pada hadist yang di riwayatkan oleh Imam Muslim dalam shohihnya dan yang lainnya dari Abu Hurairah -rodhiyallahu 'anhu- berkata :
"Seseorang bertanya kepada Rosulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- : siapakah orang yang paling berhak untuk saya berbakti kepadanya? beliau menjawab : ibu kamu, kemudian ibu kamu, kemudian ibu kamu, kemudian ayah kamu."[2]
Pepatah mengatakan: "Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang". Hikmah yang dapat kita ambil dari pepatah tersebut adalah alangkah baiknya sebelum kita meninggalkan dunia yang fana ini, hendaklah masing-masing diri kita berusaha keras untuk mampu meninggalkan bekas kontribusi yang nyata sesuai dengan bidang kompetensinya masing-masing. Dalam segala keterbatasan yang ada, menjadi sangat penting fokus berkarya dengan memanfaatkan kompetensi dan keahlian yang sudah kita kuasai.
Dengan demikian tinggalah gading dan belang yang kita torehkan menjadi signifikan dan dapat menjadi pengingat bagi kolega yang pernah berinteraksi dengan kita semasa hidup yang singkat ini.
Karena sesungguhnya tanpa ibu kita tidak bisa hidup...

NATAL JUGA HARI RAYA UMAT BERAGAMA


Perlu diketahui bahwa indonesia mempunyai beragam agama dan kepercayaan oleh sebab itu indonesia dianggap sebagai negara yang mengangkat nilai-nilai pluralitas yang tinggi. Diindonesia sendiri terdapat kurang lebih 5 (lima) agama yakni islam, kristen, katholik, hindu dan budha.
Telah diketahui juga bahwa umat kristiani merayakan hari kelahiran yesus kristus atau disebut dengan hari natal pada tanggal 25 desember setiap tahunnya, jika didalam islam diberi nama maulid Nabi S.A.W. oleh sebab itu kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi akan nilai pluralitas tinggi harus tahu semua tentang hari-hari besar diindonesia.
Seperti telah dituturkan dalam pancasila sila ketiga yakni persatuan indonesia, sudah tertta rapi dan jelas bahwasanya kita harus menjunjung persatuan bangs indonesia. karena pancasila sendiri adalah tiang kemerdekaan bangsa indonesia yang harus kita abadikan dan kita budidayakan.
Beranjak dari indonesia dalam Indonesia semua uniersitas atau kampus mempunya jajaran  organisasi baik dilingkup intra maupun ekstra, diantaranya yakni Pergerakan Mahasiswa islam indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa islam (HMI), Kesatuan aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Dan lain sebagainya yang dimana semua organisasi tersebut mengajak untuk menjunjung nasionalitas bangsa yang dibudidayakan.
Seperti halnya didalam organisasi mahasiswa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang mempunyai aswaja sebagai Manhaj al-fikr yang didalamnya telah diajarkan tentang toleransi, salah satuny yaakni mengenai toleransi antar umat beragama, oleh sebab itu kita sebagai insan pergerkan harus menghargai makna tentang semu hari-hari raya umat beragama diindonesia salah satunya yakni hari raya umat kristiani atau disebut dengan hari natal yang diselenggarakan pada tanggal 24 desember setiap tahunnya.
Telah kita ketahui juga bahwa tuhan yang maha esa atau Allah SWT telah mempunyai sifat yang tertera dalam asma’ul husna yang disebut dengan sifat maha adil, oleh sebab itu Allah tidak mungkin menciptakan manusianya yang tidak mempunyai sifat adil. Karena sudah disebutkan juga didalam hadits yang artinya “persatuan dan kesatuan adalah awal dari kesuksesan”.
Maka didalam Pergerakan Mahasiswa islam Indonesia (PMII) juga diajarkan akan toleransi terhadap siapapun disamping itu juga telah diajarkaan tentang hablum minannas, oleh sebab itu insan pergerakan harus mempunyai sifat seperti itu agar bisa ditumbuhkan sifat nasionalitas yang tinggi dan tidak membuat onar atau keributan dinegara sendiri.
Mengingat tentang keributan yang diciptakan oleh tangan-tangan manusia itu sendiri maka dari sekarang kita harus mempunyai sifat menghargai satu sama lain karena manusia diciptakan oleh tuhan sebagai makhluk sosial, oleh sebab itu kita sebagai manusia yang sudah terdidik sebagai agen of change dan agen of control harus bisa merubah image bangsa indonesia seperti itu..
Dan mulai sekaranglah kita sebagai umat beragama dan insan pergerakan bisa menghargai hari-hari raya umat beragama diindonesia karena hari natal juga hari raya umat bergama.

REFLEKSI TRAGEDI TUMPAH DARAH SURABAYA


Kronologi terjadinya perang surabaya, merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.[1]
Kejadian perang surabaya ini berawal dari tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian tanggal 8 Maret 1942, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan Perjanjian Kalijati. Setelah penyerahan tanpa syarat tesebut, Indonesia secara resmi diduduki oleh Jepang.
Dan setelah itu Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945. Dalam kekosongan kekuasaan asing tersebut, Soekarno kemudian memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.
Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.
Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.
Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel Yamato, Residen Soedirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke hotel Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak untuk mengakui kedaulatan Indonesia. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman, sementara Soedirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Sebagian pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bendera dan bersama Koesno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.
Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris . Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian hari berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi.
Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil tersebut terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali. Kematian Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA.
Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya, Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.
Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan / milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat TKR juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.
Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan pengeboman udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang.
Inggris kemudian membombardir kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik meninggal maupun terluka.
Bung Tomo di Surabaya, salah satu pemimpin revolusioner Indonesia yang paling dihormati. Foto terkenal ini bagi banyak orang yang terlibat dalam Revolusi Nasional Indonesia mewakili jiwa perjuangan revolusi utama Indonesia saat itu.[2]
Di luar dugaan pihak Inggris yang menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris.
Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) sehingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.
Setidaknya 6,000 - 16,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya[3]. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 - 2000 tentara. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia hingga sekarang.
Oleh sebab itu kita sebagai bangsa indonesia harus bisa mencontoh para pejuang indonesia yang berani karena benar takut karena salah.




[1] The Battle of Surabaya, Indonesian Heritage.
[2] Frederick, William H. (April 1982). "In Memoriam: Sutomo" ([pranala nonaktif]). Indonesia (Cornell University outheast Asia Program) 33: 127–128. seap.indo/1107016901
[3] Frederick, William H. (April 1982). "In Memoriam: Sutomo" ([pranala nonaktif]). Indonesia (Cornell University outheast Asia Program) 34: 127–128. seap.indo/1107016901