Selasa, 28 Februari 2012
Anganku.....
Sabtu, 18 Februari 2012
Refleksi diri
THE URGENCY OF SELF REFLECTION
Sebagian besar dari kita mungkin bertanya, akan pentingnya refleksi diri sendiri, dan sebagian yang lain justru mengira hal ini tidak perlu dan justru membuang waktu. bukankah kita (lebih) tahu tentang diri kita sendiri dan tentunya lebih paham. berangkat dari pernyataan ini maka kita perlu tahu tentang pentingnya refleksi diri dengan menyodorkan pernyataan “Being is not always knowing“ atau dengan ungkapan lain “being doesn’t automatically mean knowing”.
Karena ‘menjadi’ belum serta merta ‘mengetahui’, maka refleksi diri perlu dilakukan oleh masing-masing individu. tentunya, tidak semua manusia perlu melakukannya. hanya manusia yang progresif lah yang memerlukan refleksi diri tersebut. manusia progresif adalah manusia yang tidak ingin merugi bahkan celaka. dengan kata lain manusia progresif adalah hari ini lebih baik daripada hari kemarin dan hari esok adalah lebih baik dari hari sekarang, itulah ciri-ciri manusia yang beruntung. oleh sebab itu cobalah untuk memahami diri kita masing-masing semaksimal mungkin dan menguasainya.
Pengertian refleksi / analisis menurut salah satu ilmuan yakni kerlinger,refleksi adalah suatu usaha yang dilakukan secara sengaja untuk mengetahui sesuatu atas sebuah fenomena.Dalam linguistik, refleksi atau analisis adalah kajian yang dilaksanakan terhadap sebuah bahasa guna meneliti struktur bahasa tersebut secara mendalam. Sedangkan pada kegiatan laboratorium, kata refleksi atau analisis dapat juga berarti kegiatan yang dilakukan di laboratorium untuk memeriksa kandungan suatu zat dalam cuplikan. Namun ada juga pendapat yang beranggapan lain tentang pengertian dari refleksi / analisis tersebut salah satunya yakni dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III (2001)analisis ana.li.sis [n] berarti sebuah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dsb) untuk mengetahui keadaan yg sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya, dsb). Refleksi jelas berbeda dengan Analisis. dan EYD menyebutkan kata bakunya adalah Analisis.namun dalam segi pengertian refleksi dan analisis itu sama artinya dan lebih baku jika menggunakan kata analisis.
Pengertian diri yakni kita atau player atau subyek yang akan mengerjakan sebuah refleksi tersebut, dan tentunya diri kita mempunyai pribadi. yang dimaksud dengan pribadi sendiri yakni keseluruhan cara di mana seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. atau lebih jelasnya pribadi bisa disebut juga dengan sifat atau karakter yang bisa diukur dan ditunjukkan oleh seseorang.
Dalam arti lain ada yang mengatakan bahwa pribadi adalah ciri-ciri yang menonjol pada diri individu, seperti kepada orang yang pemalu dikenakan atribut “berkepribadian pemalu”. Kepada orang supel diberikan atribut “berkepribadian supel” dan kepada orang yang plin-plan, pengecut, dan semacamnya diberikan atribut “tidak punya kepribadian”. didalam bahasa psikologi para ilmuan mengatakan juga bahwa pribadi itu suatu organisasi (berbagai aspek psikis dan fisik) yang merupakan suatu struktur dan sekaligus proses. Jadi, kepribadian merupakan sesuatu yang dapat berubah.
Jadi bisa dikatakan bahwa refleksi diri ialah suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk mengenal sebuah fenomena atau realita yang ada pada diri kita, meliputi kepribadian, akal, watak, sifat, dan lain sebagainya.
Namun sekarang banyak yang masih belum pernah mengenal dirinya sendiri atau merefleksi dirinya sendiri untuk kebaikan mereka sendiri. oleh sebab itu sebelum kita mengenali diri orang lain alangkah baiknya jika kita mengetahui diri kita sendiri seperti halnya yang dikatakan dalam “teory freud” yang mengatakan bahwa “kita sekarang adalah kita yang tersembunyi”. jika dianalogikan seperti gambar gunung es yang puncaknya dalah bagian sadar, yang ukurannya lebih kecil daripada bagian dasar yang cenderung nampak. oleh sebab itu kenalilah diri kita dahulu sebelum mengenal diri orang lain.
Didalam teorinya, Sigmund Freud juga menjelaskan bahwa kepribadian terdiri dari tiga sistem utama yakni id, ego, dan superego, yang setiap tindakan kita merupakan hasil interaksi dan keseimbangan antara ketiga sistem tersebut. disamping itu freud juga menjelaskan dalam teori psikoanalisanya dengan menguraikan jiwa atau diri (human psyche). menurutnya, human psyche tersebut meliputi seperti yang diatas tadi yakni id, ego, dan superego.
Id didefinisikan sebagai sesuatu yang berisikan naluri (instinc) dan energi dasar kehidupan yang sebagai pengatur dan penggerak segenap organ. id berfungsi dialam bawah sadar manusia, sehingga ia tidak mengenal nilai (baik-buruk), tidak ada moralitas baginya. ia hanya memperoleh kepuasan bagi kebutuhan naluriahnya selaras deengan prinsip kenikmatan.
Ego adalah bagian sadar manusia yang bersifat rasional yang berusaha menyesuaikan antara alam bawah sadar (id) dengan tuntutan realita. dan ego Lah yang menjaga gerak atau sikap organ-organ. meski seperti itu, ego bersifat anti-sosial dan cenderung ‘membahayakan’.
Adapun superego adalah bagian diri atau lebih jelasnya kata hati, yang dengannya seorang dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah menurut aturan sosial, dimana ia tinggal, sehingga ia akan merasa bersalah ketika melakukan kesalahan.
Id dan superego selamnya saling bertentangan dan ego berusaha ‘merukunkan’ daya-daya keduanya sehingga menghasilkan tingkah laku atau tindakan. oleh karena itu freud meyakini bahwa selama manusia berada dalam konflik dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungan. menurut sigmund freud sendiri orang shaleh adalah orang yang mampu menekan atau merepresikan implus-implusnya, namun pendosa adalah orang yang menikmati implus-implusnya. Jadi, bagaiman dengan mu??
wallahua'lam......
Mahasiswa / pahlawan
Apakah “MAHASISWA” merupakan Pahlawan ???
Berbicara mengenai pahlawan kita akan mengenang tentang hari pahlawan dimana hari itu pada tanggal 10 November 1945 setelah kemerdekaan, sebenarnya mengapa tanggal itu sakral sebagai hari pahlawan? peristiwa apa sebenarnya sehingga tanggal itu dikenang sampai sekarang. Mungkin kita sebagai bangsa Indonesia sudah tahu bahwa hari itu hari pahlawan karena pada saat itu bung tomo bersama arek-arek suroboyo berjuang untuk Indonesia, jika ditelisik kembali peristiwa itu terjadi pada saat tahun 1942 setelah perjanjian kalijati dan tiga tahun setelah 1942 jepangpun menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah pengeboman dihirosima dan Nagasaki, kejadian itu tepat pada tahun 1945. Pada saat kekosongan kekuasaan asing tersebut, sukarno memploklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 bulan agustus tahun 1945.
Setelah menyerahnya jepang orang indonesiapun berusaha melucuti persenjataan tentara jepang, pada saat itu terjadilah banyak pertempuran yang mengakibatkan korban di berbagai daerah. Dan pada saat itu pula pasukan jepang turun ke indonesia dan melepaskan tawanan perang dari jepang, singkat cerita setelah munculnya maklumat pemerintah indonesia pada tanggal 31 agustus 1945 menetapkan bahwa mulai pada tanggal 1 september 1945 bendera nasional sangkaka merah putihpun berkibar diseluruh indonesia. Setelah itu terjadi gencatan senjata antara indonesia dan inggris dan ditandatangani pada tanggal 29 oktober 1945, indonesia berangsur merdeka.
Dan setelah wafatnya jendral malabby, mayor Robert mansergh penggantinya mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa pimpinan dan bangsa indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya serta menyerahkan diri ditempat yang telah ditentukan dan mengangkat tangan diatas, batas ultimatum tersebut sampai jam 06.00 10 november 1945. Ultimatum tersebut dianggap penghinaan untuk rakyat indonesia yang telah membentuk banyak badan perjuangan dengan alasan indonesia pada saat itu sudah merdeka, dan banyak badan perjuangan yang dibentuk terutama dari kaum pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya pemerintahan belanda.
Pada tanggal 10 november 1945 banyak terjadi gencatan senjata yang ada didarat, laut, dan udara. Dalam pertempuran ini terjadi banyak korban dari masayarakat sipil baik terluka maupun mati. Para pelopor kemerdekaan seperti bung tomo masih tetap berperan penting dalam pertempuran ini dan terus mengompori pemuda disurabaya pada saat itu hingga pertempuran berlanjut dalam skala besar inggris. Pertempuran ini membuat banyak korban berjatuhan dari pihak indonesia, kurang lebih 6.000 pemuda yang mati dipertempuran itu serta 200.000 rakyat yang mengungsi di kawasan Surabaya. Pertempuran berdarah yang terjadi disurabaya ini telah mempergerakkan masyarakat untuk berjuang mempertahankan indonesia dan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur pada pertempuran 10 november inilah yang kemudian dikenang sebagai hari pahlawan, yang melawan tentang kolonialisme disurabaya.
Setelah history diceritakan sekarang kita mencoba untuk mengkorelasikan kepada mahasiswa terutama pada kampus kita UIN MALIKI Malang , apakah mahasiswa UIN MALIKI cocok dikatakan sebagai pejuang atau pahlawan yang membela dan mempertahankan nama baik UIN MALIKI sendiri? Sekarang coba kita bayangkan banyak mahasiswa yang masih belum bisa mengerti dan bahkan mungkin tidak mengerti tentang tri dharma perguruan tinggi, yakni belajar, meneliti, dan mengabdi. Banyak sekarang mahasiswa yang hanya mau belajar untuk meraih nilai, apakah kuliah hanya untuk nilai? Dan sekarang banyak juga mahasiswa yang memaksa belajar agar lulus kuliah cepat, padahal sesuatu yang dipaksakan itu mengakibatkan hal buruk, belum tentu mereka setelah lulus hidupnya langsung mapan, bagaimana jika mereka hanya sarjana muda yang tak berguna? Ada juga mahasiswa yang masih belum mau belajar mengenal diri berbudi luhur mengerti benar dan salah, mereka hanya bisa menyalahkan orang lain yang mengakibatkan banyak perpecahan bendera didalamnya, padahal didalam islam dijelaskan al-muslimu akhul muslim apakah sekarang sudah tidak ada dikampus ulul albab? Ternyata susah menjadi mahasiswa yang sejatinya mahasiswa ya? Coba kita pikirkan hal diatas tadi dengan perjuangan mahasiswa dan pemuda pada zaman 10 november 1945, mereka belajar tanpa pamrih untuk kemerdekaan dan hanya memerangi rakyat yang bukan rakyat indonesia, namun sekarang, dengan rakyat sendiri masih terjadi peperangan. Apakah pantas mahasiswa menjadi pahlawan?
Dan berbicara mengenai tri dharma perguruan tinggi, apakah mahasiswa sekarang sudah bisa meneliti dirinya sendiri? Apakah mereka sudah bisa menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya? Dan apakah mereka hanya bisa meneliti keslahan orang lain seperti halnya dalam pepatah gajah dipelupuk mata tak tampak namun kuman diseberang lautan Nampak? Realita banyak ditemukan mahasiswa yang masih suka aksi tak jelas tanpa batas yang mengakibatkan kepercayaan keras tentang aksi, apakah pantas mahasiswa menjadi pahlawan jika mereka masih seperti itu, menggelar aksi yang aksi itu ditujukan kepada saudara mereka sendiri?
Dan yang terakhir tentang tri dharma perguruan tinggi, yakni mengabdi,, pengabdian apa sekarang yang sudah diberikan mahasiswa kepada keadaan yang ada? Ataukah pengabdian mereka berupa penghancuran kepada keadaan itu sendiri?, Apakah pantas mahasiswa menjadi pahlawan? Sekarang kita bayangkan realitas yang ada didalam kehidupan mahasiswa UIN MALIKI sendiri? Sekarang bagaimana dengan kita agar bisa seperti perjuangan pemuda pada era 10 november 1945, apakah kita bisa ataukah hanya angan-angan belaka yang hanya mengakibatkan sebuah fatamorgana, padahal mahasiswa adalah agen of change dan agen of control serta agen-agen yang lain yang rujuknya kepada kemaslahatan bersama. Apakah kita sudah tahu tentang tri dharma perguruan tinggi tersebut? Itu semua masih menjadi proses pembentukan diri kita yang didalamnya masih terdapat banyak misteri dan tanda Tanya besar untuk kita. Oleh sebab itu kita mengaca pada 10 november 1945.
Ingat, sukses itu sebuah perjalanan bukan tujuan akhir!!!
Lolonk
Arti pemuda
Mari bersama kita merenungi, apa yang selama ini kita lakukan, hal-hal yang menurut kita baik tapi sebetulnya adalah kesalahan kecil yang tanpa kita sadari akan berakibat besar pada diri kita,
dulu dengan ideologi yang begitu terjaga dalam hati tertanam dalam fikiran, para pemuda dengan gigih berjuang untuk INDONESIA, dengan semangat untuk sebuah perubahan, tak berpikir lain kecuali kebebasan, kebebasan yang berdasar, kini para remaja para pemuda semangat untuk sedikit demi sedikit menghancurkan bangsa, dengan tindakan-tindakan yang dianggap sederhana dalam fikiran - fikiran sok, teriakan-teriakan perdamaian , keadilan, dan lain sebagainya bergemuruh di trotoar jalan, wajah wajah alim dan kelihatan tak berdosa bercampur meneriakkan nada sumbang tanpa arti, di lain sisi pemuda pemuda putus sekolah yang terlihat acuh terhadap semuanya, bergerak mencari jati diri berusaha untuk memberikan hal baik pda dirinya agar tetap bertahan hidup, tak meminta belas kasihan karena mereka tau cara mengasihani dirinya yang hidup dalam kekosongan jiwa hampir rapuh dan raga yang hampir hilang, membangun pondasi pondasi diri yang runtuh,
saluut ...
satu hal yang ada pada para kaum acuh ithu,, mereka setia meriakkan Indonesia bukan meneriakan nada sumbang yang tak jelas dasarnyaa, mereka berjiwa patriot yang menjunjung Indonesia walau mereka pun sebetulnya tak tau bagaimana lagu kebangsaan Indonesia ithu,
memberikan yang terbaik untuk bangsa bukan malah memberikan beban untuk bangsa
mendukung semua yang telah di lakukan oleh bangsa bukan malah mencemari fikiran bangsa dalam mewujudkan sebuah cita cita tulus
bukankah kita pemuda belum pernah merasakan bagaimana menjadi nahkoda sebuah kapal yang berlayar di antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia, so jangan memberikan statement negatif sebelum kita mejalaninya, belum tentu kita lebih baik menjadi seorang Nahkoda di kapal besar ini
bukan berniad menjadi "Muka Dua" tapi mari bersama kita merubah pola pikir kita,, " Apa yang dapat kita lakukan untuk Indonesia BUKAN bertanya apa yang diberikan Indonesia untuk kita"
Untuk Kita Renungkan
Gang dolly digedung perkuliahan
“Gang dolly” di gedung perkuliahan
Di era globalisasi ini siapa yang tidak tahu dan tidak tahu dengan gang dolly, tapi sebenarnya apa sih yang dinamakan gang dolly itu?? Padahal gang dolly itu cuma sekedar gang yang ada dikawasan surabaya. Tapi mengapa menjadi bahasan setiap orang bahkan banyak orang, jadi pada intinya gang dolly itu terkenal dengan daya tariknya yang didalamnya terdapat banyak jajanan yang harganya sangat fantastis. Disamping itu pula karena letaknya sangat strategis yakni dikawasan surabaya, siapa sih yang tidak kenal dengan surabaya, oleh sebab itu banyak orang yang mampir kesana.
Berbicara tentang gang dolly, siapa sih sebenarnya yang membuatnya?? Karena sampai saat inipun hanya gang itu yang masih terupdate daripada gang yang lainnya dikawasan surabaya. apakah hanya orang yang ada di gang itu yang membuatnya?? Atau mendapat dukungan dari orang lain agar mensukseskan program kerja yang ada di gang dolly tersebut. karena sampai saat ini gang dolly pun diresmikan sebagai instansi tenaga kerja . ulasan diatas tadi yang dimaksudkan ialah gang dolly sekarang itu terkenal sebagai lokalisasi, mengapa hal itu terjadi hingga sekarang bahkan pemerintah pun meresmikannya. Apakah sekarang bangsa kita sudah tidak punya agama atau bagaimana??? Masih tersimpan banyak tanda tanya besar pada diri kita untuk mengetahui hal tersebut.
Berbicara mengenai gang dolly, kita sekarang beranjak kekampus kita siapa sih yang tidak tahu UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG,?? Siapa juga yang tidak kenal dengan rektornya,, namun sebenarnya apa makna yang dimaksudkan dan terkandung dari nama UIN MALIKI Malang dan mengapa diberi nama tersebut?? tentu mahasiswa UIN sendiri pun bisa menjawab karena tidak mungkin mahasiswa UIN tidak tahu maknanya UIN,, kepanjangan dari UIN sendiri adalah Universitas Islam Negeri. Tulisan islam sendiri telah menempel erat pda kata UIN, dan UIN MALIKI pun mempunyai ciri khas khusus yang dimilikinya yakni mempunyai 4 pilar khusus yang banyak mengandung unsur religius tanpa ditulis pun kalian sudah tahu maknanya, namun mari kita coba sedikit melebarkan makna tentang pengertian UIN MALIKI malang?? Berbiara tentang UIN MALIKI tidak jauh dari gedung A dan gedung B dan tentunya mahasiswa/i dari kampus itu sendiri. coba sekarang kita lihat bangunan antara gedung A dan gedung B. Apakah bisa diibaratkan sebagai gang atau lebih jelasnya gang dolly?? Mengapa demikian?? Realita yang ada memang seperti itu, karena apa?? Dijalan itulah atau gedung itulah banyak jajanan menarik dan fantastis meskipun tidak untuk diperjual belikan. karena diantara kedua bangunan itupun bisa dibuat untuk berdua, karena banyaknya mahasiswa yang menjalin cinlok dan merekapun susah untuk keluar dikarenakan banyaknya aktifitas atau kegiatan akhirnya mereka pun melepas kangen dengan berdua diantara dua gedung tersebut. padahal sebenarnya mahasiswa UIN sendiri pun mengetahui bahwa UIN itu orangnya harus ulul albab namun sekarang mengapa realitanya tidak seperti itu,??
Meskipun tidak semuanya namun rata rata sudah banyak bahkan mungkin gedung A dan gedung B tersebut diresmikan sebagai gedung berdua atau gedung berpasangan mungkin mahasiswa/i UIN sendiri pun banyak yang prustasi karena banyaknya kegiatan, terutama mahasiswa semester 1. Oleh sebab itu mereka memilih beristirahat dan refrhesing dengan berdua digedung itu. Kita bayangkan saja kegiatan dimulai sejak jam 08.00 pagi hingga 08.00 malam, dan hanya istirahat untuk sholat dan makan, apakah mahasiswa UIN sudah hilang ulul albabnya?? Ataukah sudah tidak berlaku lagi nama islam di UIN sendiri?? dan apakah pemerintah UIN sendiri sudah meresmikan 2 bangunan tersebut?? atau memang membiarkan hal negatif itu terjadi??. Padahal pemerintah UIN sendiri yang mengharuskan dan menganjurkan ulul alab dan mengamalkan 4 pilar khas UIN MALIKI malang yakni kedalaman spiritual, keluhuran akhlak, keluasan ilmu, dan kematangan profesional.
Jauh kita berbicara mengenai UIN MALIKI malang kita sekarang mengoreksi diri kita sendiri, kita sekarang diposisi yang mana?? Apakah kita sekarang masih ulul albab yang asli ataukah hanya berkedok ulul albab?? Dan menurut kata kata yang di ucapkan oleh seorang ulama yakni mulailah dari diri kita,, mulailah dari hal kecil,, dan mulailah dari sekarang, oleh sebab itu mulai sekarang mari kita coba untuk melangkah yang lebih baik. Kalau ada yang baik mengapa tidak,, dan kalau gak kita kita siapa lagi??
Hidupkan mimpimu jangan mimpikan hidupmu....... wallahu a’lam.
berfikir ilmiah dan empirik
Berfikir Ilmiah dan Empirik
Tulisan khususnya artikel ilmiah baik itu populer tulisan ilmiah dalam jurnal dan buku tidak cukup memaparkan pengetahuan sang penulisnya terhadap satu tema tertentu. Meskipun dilampiri referensi data empirik, tulisan yang hanya memaparkan "pengetahuan" penulisnya biasanya disebut dengan reportase.
Sedangkan tulisan artikel, opini dan tulisan ilmiah lainnya mensyaratkan di dalamnya "ilmu pengetahuan", di samping "pengetahuan" sang penulis terhadap hal-hal empirik yang mendukung teori dalam ilmu pengetahuan tersebut.
Dari sini sebenarnya sudah bisa menjawab sikap pesimis Haris mengapa para mahasiswa kesulitan memaparkan gagasannya dalam bentuk tulisan. Permasalahannya tidak sekedar "malas" untuk menjadikan menulis sabagai tradisi atau kebiasaan sehari-hari namun yang lebih prinsip adalah "malas" menjadikan "berfikir ilmiah" sebagai kebiasaan sehari-hari. Lalu bagaimana berfikir ilmiah itu?
Sekolah adalah institusi yang mengantar siswa (mahasiswa di perguruan tinggi) menjadi insan "ilmiah". Sekolah (sekolah dasar sampai perguruan tinggi) bertugas memberi makna "pengetahuan" dan pengalaman kita terhadap hal-hal yang ada di sekeliling.
Makna-makna tersebut kemudian menempati satu peristilahan yakni "ilmu pengetahuan" jika dilalui dengan metode ilmiah. Pada jenjang perguruan tinggi, pengetahuan kemudian dikelompokkan berdasarkan gugusnya masing-masing.
Sebelum tahun 1970-an, kita hanya mengenal dua gugus ilmu pengetahuan yakni "ilmu alam" dan "ilmu sosial". Baru tahun 1980-an berkembang ilmu humaniora di luar dua gugus ilmu pengetahuan tersebut.
Secara sederhananya, tidak semua pengetahuan dapat disebut sebagai ilmu pengetahuan. Meski tulisan ini tidak untuk mendiskusikan secara mendalam tentang filsafat ilmu, namun ada dua hal yang harus dibongkar dalam filsafat ilmu agar kita bisa mendapatkan “ilmu pengetahuan” sebelum kemudian kita memproduksinya menjadi tulisan yang bisa dikosumsi banyak orang.
Pertama, ontologi. Bagi seorang cendekiawan (mahasiswa sebagai calon cendekiawan) yang harus dipahami pertama kali adalah ontologi dari ilmu pengetahuan yang digelutinya. Smith (2005) membatasi pengertian ontologi sebagai ilmu tentang definisi, jenis dan struktur dari subyek yang ada dalam setiap area kenyataan.
Ontologi kerap disama artikan dengan "obyek" dari ilmu pengetahuan. Tradisi ilmiah biasanya memiliki "fokus" terhadap bidang (ontologi) yang dikaji (pelajarinya). Makanya awal tahun 2000-an, ilmu pengetahuan berkembang pesat dengan cabang-cabangnya yang lebih fokus dibandingan dengan perkembangan ilmu pada masa sebelumnya.
Dalam konteks ini, seorang intelektual atau cendekiawan haruslah memahami permasalahan yang ada dalam lingkup "bidang" kajian ilmu yang dipelajarinya sebelum ia melakukan tahapan-tahapan dalam prosedur ilmiah (metode ilmiah) yang kelak hasil akhirnya dituangkan dalam bentuk tulisan ilmiah baik itu ilmiah populer (artikel, opini) maupun ilmiah dalam bentuk jurnal dan buku.
Kedua, epistemologi. Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan dan permasalahan yang ada dalam bidang kajian yang digeluti, dengan menggunakan bantuan "epistemologi" hakekat dari permasalahan dapat diramalkan, dapat dimaknai dan dapat pula dikritisi. Syapur dalam Isyraq (2007) menjelaskan epitemologi seperti teropong yang digunakan untuk melihat benda-benda kecil dan jauh jangkauannya.
Penggunaan teropong tersebut didasarkan karena ketidak percayaan para ilmuwan dengan panca indera yang kerap menipu dan memiliki keterbatasan. Teropong inilah yang dimaksud dengan istilah epistelomogi dalam tradisi berfikir ilmiah.
Epistemologi sendiri di kalangan dunia kampus kerap dipahami dengan "metode ilmiah" yang membahas tentang batasan, dasar dan pondasi, alat, tolok ukur, keabsahan, validitas dan kebenaran ilmu, ma’rifat dan pengetahuan manusia.
Dalam tradisi ilmiah, jika terdapat hasil penelitian atau survey (penelitian ilmu sosial) ternyata salah maka yang patut dipertanyakan adalah "teropong" yang digunakan. Dengan demikian penulis mengambil satu kesimpulan bahwa tak ada yang salah terhadap pemberian makna atas apapun yang terjadi disekeliling kita.
Seperti halnya ujaran psikolog sosial bahwa realitas itu sebenarnya tidak ada, yang ada hanya apa yang kita persepsikan. Penggunakan satu metode ilmiah akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda dengan metode ilmiah lainnya.
Metode paling mudah dalam prosedur ilmiah adalah kajian dokumentasi. Di sini kita dapat melakukan analisis isi dokumen-dokumen yang ada untuk menjawab pertanyaan atau rasa ingin tahu kita terhadap tema tertentu.
Kajian dokumentasi dapat dilakukan siapapun, termasuk mahasiswa dengan membaca buku-buku, jurnal, majalah dan klipingan koran. Kajian dokumentasi pula yang kerap digunakan mahasiswa dalam penulisan makalah sebagai tugas mata kuliah di perguruan tinggi.
Tradisi Menulis
Meski kini banyak slogan bertebaran dalam buku-buku maupun dunia maya bahwa "menulis itu mudah", kenyataannya tidak sedikit para dosen yang mengajar di perguruan tinggi di Indonesia memperoleh kesulitan kenaikan pangkat karena prasyarat dalam tri dharma tidak terpenuhi. Satu syarat dalam tri dharma yang berkaitan dengan dunia menulis adalah karya ilmiah hasil dari penelitian.
?Lazimnya sebuah proses, hasil penelitian sebenarnya harus dituangkan dalam bentuk tulisan ilmiah dan dipublikasikan sehingga dapat dibaca oleh banyak orang. Namun fakta di lapangan justru hasil-hasil penelitian para intelektual kampus tersebut kerap puas hanya singgah dalam rak perpustakaan internal kampus.
Untuk hal ini, pemerintah saat ini mewajiban program penelitian dosen (meski belum seluruhnya) yang anggarannya diserap dari APBN hasilnya harus "dipublish" dalam jurnal ilmiah. Di beberapa perguruan tinggi negeri juga mensyaratkan mahasiswa S3 untuk mem-publish hasil penelitian disertasinya di jurna l ilmiah sebagai persyaratan kelulusan.
Sayangnya program penelitian sebagai sebuah proses menggali ilmu pengetahuan yang idealnya diakhiri dengan tulisan ilmiah tersebut ditanggapi oleh insan akademis sebagai beban, bukan sebagai latihan berfikir ilmiah dan latihan mentransformasikan ilmu hasil penyelidikannya melalui tulisan.
Di dua paragraf terakhir, Haris dalam tulisannya "Mahasiswa dan Tradisi Menulis" dengan penuh keyakinan bahwa tradisi menulis akan mereposisi mahasiswa yang awalnya hanya sebagai konsumen menjadi produsen.
Atas ujaran tersebut penulis justru ingin mempertanyakan, apakah yang dimaksud berlaku untuk semua jenis tulisan? Dalam alam kebebasan pers saat ini, semua orang bisa menulis apapun isinya. Permasalahannya apakah tulisan yang sifatnya sensasional yang cenderung mengedepankan emosi dan fitnah (tanpa data dan mengikuti prosedur ilmiah) dapat digunakan sebagai referensi dan menjadikan penulisnya mendapat predikat "pabrik wacana"?
Mengakhiri tulisan ini, penulis mengajak para mahasiswa dan juga cendekiawan muda untuk terus mengasah diri dalam tradisi berfikir ilmiah. Metode yang mudah dan murah dalam berfikir ilmiah adalah studi dokumentasi.
Dalam studi dokumentasi ayo kita perbanyak membaca buku-buku karya para pemikir, para ilmuwan dan tokoh dunia maupun Indonesia. Kita perbanyak membaca teori-teori agar kita bisa menyusun "tesis-sintesis-anti tesis" terhadap permasalahan yang ada disekitar kita.
Seperti disebutkan dalam teori sistem, besarnya input (dalam hal ini kemampuan membaca) akan mempengaruhi besarnya out put yakni menuangkannya dalam bentuk tulisan. Maka, apakah ada penulis (bukan penulis karangan fiksi) yang tercerabut dari tradisi berfikir ilmiah? Wallahu'alam