Apakah “MAHASISWA” merupakan Pahlawan ???
Berbicara mengenai pahlawan kita akan mengenang tentang hari pahlawan dimana hari itu pada tanggal 10 November 1945 setelah kemerdekaan, sebenarnya mengapa tanggal itu sakral sebagai hari pahlawan? peristiwa apa sebenarnya sehingga tanggal itu dikenang sampai sekarang. Mungkin kita sebagai bangsa Indonesia sudah tahu bahwa hari itu hari pahlawan karena pada saat itu bung tomo bersama arek-arek suroboyo berjuang untuk Indonesia, jika ditelisik kembali peristiwa itu terjadi pada saat tahun 1942 setelah perjanjian kalijati dan tiga tahun setelah 1942 jepangpun menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah pengeboman dihirosima dan Nagasaki, kejadian itu tepat pada tahun 1945. Pada saat kekosongan kekuasaan asing tersebut, sukarno memploklamirkan kemerdekaan pada tanggal 17 bulan agustus tahun 1945.
Setelah menyerahnya jepang orang indonesiapun berusaha melucuti persenjataan tentara jepang, pada saat itu terjadilah banyak pertempuran yang mengakibatkan korban di berbagai daerah. Dan pada saat itu pula pasukan jepang turun ke indonesia dan melepaskan tawanan perang dari jepang, singkat cerita setelah munculnya maklumat pemerintah indonesia pada tanggal 31 agustus 1945 menetapkan bahwa mulai pada tanggal 1 september 1945 bendera nasional sangkaka merah putihpun berkibar diseluruh indonesia. Setelah itu terjadi gencatan senjata antara indonesia dan inggris dan ditandatangani pada tanggal 29 oktober 1945, indonesia berangsur merdeka.
Dan setelah wafatnya jendral malabby, mayor Robert mansergh penggantinya mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa pimpinan dan bangsa indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya serta menyerahkan diri ditempat yang telah ditentukan dan mengangkat tangan diatas, batas ultimatum tersebut sampai jam 06.00 10 november 1945. Ultimatum tersebut dianggap penghinaan untuk rakyat indonesia yang telah membentuk banyak badan perjuangan dengan alasan indonesia pada saat itu sudah merdeka, dan banyak badan perjuangan yang dibentuk terutama dari kaum pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya pemerintahan belanda.
Pada tanggal 10 november 1945 banyak terjadi gencatan senjata yang ada didarat, laut, dan udara. Dalam pertempuran ini terjadi banyak korban dari masayarakat sipil baik terluka maupun mati. Para pelopor kemerdekaan seperti bung tomo masih tetap berperan penting dalam pertempuran ini dan terus mengompori pemuda disurabaya pada saat itu hingga pertempuran berlanjut dalam skala besar inggris. Pertempuran ini membuat banyak korban berjatuhan dari pihak indonesia, kurang lebih 6.000 pemuda yang mati dipertempuran itu serta 200.000 rakyat yang mengungsi di kawasan Surabaya. Pertempuran berdarah yang terjadi disurabaya ini telah mempergerakkan masyarakat untuk berjuang mempertahankan indonesia dan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur pada pertempuran 10 november inilah yang kemudian dikenang sebagai hari pahlawan, yang melawan tentang kolonialisme disurabaya.
Setelah history diceritakan sekarang kita mencoba untuk mengkorelasikan kepada mahasiswa terutama pada kampus kita UIN MALIKI Malang , apakah mahasiswa UIN MALIKI cocok dikatakan sebagai pejuang atau pahlawan yang membela dan mempertahankan nama baik UIN MALIKI sendiri? Sekarang coba kita bayangkan banyak mahasiswa yang masih belum bisa mengerti dan bahkan mungkin tidak mengerti tentang tri dharma perguruan tinggi, yakni belajar, meneliti, dan mengabdi. Banyak sekarang mahasiswa yang hanya mau belajar untuk meraih nilai, apakah kuliah hanya untuk nilai? Dan sekarang banyak juga mahasiswa yang memaksa belajar agar lulus kuliah cepat, padahal sesuatu yang dipaksakan itu mengakibatkan hal buruk, belum tentu mereka setelah lulus hidupnya langsung mapan, bagaimana jika mereka hanya sarjana muda yang tak berguna? Ada juga mahasiswa yang masih belum mau belajar mengenal diri berbudi luhur mengerti benar dan salah, mereka hanya bisa menyalahkan orang lain yang mengakibatkan banyak perpecahan bendera didalamnya, padahal didalam islam dijelaskan al-muslimu akhul muslim apakah sekarang sudah tidak ada dikampus ulul albab? Ternyata susah menjadi mahasiswa yang sejatinya mahasiswa ya? Coba kita pikirkan hal diatas tadi dengan perjuangan mahasiswa dan pemuda pada zaman 10 november 1945, mereka belajar tanpa pamrih untuk kemerdekaan dan hanya memerangi rakyat yang bukan rakyat indonesia, namun sekarang, dengan rakyat sendiri masih terjadi peperangan. Apakah pantas mahasiswa menjadi pahlawan?
Dan berbicara mengenai tri dharma perguruan tinggi, apakah mahasiswa sekarang sudah bisa meneliti dirinya sendiri? Apakah mereka sudah bisa menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya? Dan apakah mereka hanya bisa meneliti keslahan orang lain seperti halnya dalam pepatah gajah dipelupuk mata tak tampak namun kuman diseberang lautan Nampak? Realita banyak ditemukan mahasiswa yang masih suka aksi tak jelas tanpa batas yang mengakibatkan kepercayaan keras tentang aksi, apakah pantas mahasiswa menjadi pahlawan jika mereka masih seperti itu, menggelar aksi yang aksi itu ditujukan kepada saudara mereka sendiri?
Dan yang terakhir tentang tri dharma perguruan tinggi, yakni mengabdi,, pengabdian apa sekarang yang sudah diberikan mahasiswa kepada keadaan yang ada? Ataukah pengabdian mereka berupa penghancuran kepada keadaan itu sendiri?, Apakah pantas mahasiswa menjadi pahlawan? Sekarang kita bayangkan realitas yang ada didalam kehidupan mahasiswa UIN MALIKI sendiri? Sekarang bagaimana dengan kita agar bisa seperti perjuangan pemuda pada era 10 november 1945, apakah kita bisa ataukah hanya angan-angan belaka yang hanya mengakibatkan sebuah fatamorgana, padahal mahasiswa adalah agen of change dan agen of control serta agen-agen yang lain yang rujuknya kepada kemaslahatan bersama. Apakah kita sudah tahu tentang tri dharma perguruan tinggi tersebut? Itu semua masih menjadi proses pembentukan diri kita yang didalamnya masih terdapat banyak misteri dan tanda Tanya besar untuk kita. Oleh sebab itu kita mengaca pada 10 november 1945.
Ingat, sukses itu sebuah perjalanan bukan tujuan akhir!!!
Lolonk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar