THE URGENCY OF SELF REFLECTION
Sebagian besar dari kita mungkin bertanya, akan pentingnya refleksi diri sendiri, dan sebagian yang lain justru mengira hal ini tidak perlu dan justru membuang waktu. bukankah kita (lebih) tahu tentang diri kita sendiri dan tentunya lebih paham. berangkat dari pernyataan ini maka kita perlu tahu tentang pentingnya refleksi diri dengan menyodorkan pernyataan “Being is not always knowing“ atau dengan ungkapan lain “being doesn’t automatically mean knowing”.
Karena ‘menjadi’ belum serta merta ‘mengetahui’, maka refleksi diri perlu dilakukan oleh masing-masing individu. tentunya, tidak semua manusia perlu melakukannya. hanya manusia yang progresif lah yang memerlukan refleksi diri tersebut. manusia progresif adalah manusia yang tidak ingin merugi bahkan celaka. dengan kata lain manusia progresif adalah hari ini lebih baik daripada hari kemarin dan hari esok adalah lebih baik dari hari sekarang, itulah ciri-ciri manusia yang beruntung. oleh sebab itu cobalah untuk memahami diri kita masing-masing semaksimal mungkin dan menguasainya.
Pengertian refleksi / analisis menurut salah satu ilmuan yakni kerlinger,refleksi adalah suatu usaha yang dilakukan secara sengaja untuk mengetahui sesuatu atas sebuah fenomena.Dalam linguistik, refleksi atau analisis adalah kajian yang dilaksanakan terhadap sebuah bahasa guna meneliti struktur bahasa tersebut secara mendalam. Sedangkan pada kegiatan laboratorium, kata refleksi atau analisis dapat juga berarti kegiatan yang dilakukan di laboratorium untuk memeriksa kandungan suatu zat dalam cuplikan. Namun ada juga pendapat yang beranggapan lain tentang pengertian dari refleksi / analisis tersebut salah satunya yakni dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi III (2001)analisis ana.li.sis [n] berarti sebuah penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dsb) untuk mengetahui keadaan yg sebenarnya (sebab-musabab, duduk perkaranya, dsb). Refleksi jelas berbeda dengan Analisis. dan EYD menyebutkan kata bakunya adalah Analisis.namun dalam segi pengertian refleksi dan analisis itu sama artinya dan lebih baku jika menggunakan kata analisis.
Pengertian diri yakni kita atau player atau subyek yang akan mengerjakan sebuah refleksi tersebut, dan tentunya diri kita mempunyai pribadi. yang dimaksud dengan pribadi sendiri yakni keseluruhan cara di mana seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. atau lebih jelasnya pribadi bisa disebut juga dengan sifat atau karakter yang bisa diukur dan ditunjukkan oleh seseorang.
Dalam arti lain ada yang mengatakan bahwa pribadi adalah ciri-ciri yang menonjol pada diri individu, seperti kepada orang yang pemalu dikenakan atribut “berkepribadian pemalu”. Kepada orang supel diberikan atribut “berkepribadian supel” dan kepada orang yang plin-plan, pengecut, dan semacamnya diberikan atribut “tidak punya kepribadian”. didalam bahasa psikologi para ilmuan mengatakan juga bahwa pribadi itu suatu organisasi (berbagai aspek psikis dan fisik) yang merupakan suatu struktur dan sekaligus proses. Jadi, kepribadian merupakan sesuatu yang dapat berubah.
Jadi bisa dikatakan bahwa refleksi diri ialah suatu proses atau usaha yang dilakukan untuk mengenal sebuah fenomena atau realita yang ada pada diri kita, meliputi kepribadian, akal, watak, sifat, dan lain sebagainya.
Namun sekarang banyak yang masih belum pernah mengenal dirinya sendiri atau merefleksi dirinya sendiri untuk kebaikan mereka sendiri. oleh sebab itu sebelum kita mengenali diri orang lain alangkah baiknya jika kita mengetahui diri kita sendiri seperti halnya yang dikatakan dalam “teory freud” yang mengatakan bahwa “kita sekarang adalah kita yang tersembunyi”. jika dianalogikan seperti gambar gunung es yang puncaknya dalah bagian sadar, yang ukurannya lebih kecil daripada bagian dasar yang cenderung nampak. oleh sebab itu kenalilah diri kita dahulu sebelum mengenal diri orang lain.
Didalam teorinya, Sigmund Freud juga menjelaskan bahwa kepribadian terdiri dari tiga sistem utama yakni id, ego, dan superego, yang setiap tindakan kita merupakan hasil interaksi dan keseimbangan antara ketiga sistem tersebut. disamping itu freud juga menjelaskan dalam teori psikoanalisanya dengan menguraikan jiwa atau diri (human psyche). menurutnya, human psyche tersebut meliputi seperti yang diatas tadi yakni id, ego, dan superego.
Id didefinisikan sebagai sesuatu yang berisikan naluri (instinc) dan energi dasar kehidupan yang sebagai pengatur dan penggerak segenap organ. id berfungsi dialam bawah sadar manusia, sehingga ia tidak mengenal nilai (baik-buruk), tidak ada moralitas baginya. ia hanya memperoleh kepuasan bagi kebutuhan naluriahnya selaras deengan prinsip kenikmatan.
Ego adalah bagian sadar manusia yang bersifat rasional yang berusaha menyesuaikan antara alam bawah sadar (id) dengan tuntutan realita. dan ego Lah yang menjaga gerak atau sikap organ-organ. meski seperti itu, ego bersifat anti-sosial dan cenderung ‘membahayakan’.
Adapun superego adalah bagian diri atau lebih jelasnya kata hati, yang dengannya seorang dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah menurut aturan sosial, dimana ia tinggal, sehingga ia akan merasa bersalah ketika melakukan kesalahan.
Id dan superego selamnya saling bertentangan dan ego berusaha ‘merukunkan’ daya-daya keduanya sehingga menghasilkan tingkah laku atau tindakan. oleh karena itu freud meyakini bahwa selama manusia berada dalam konflik dengan dirinya sendiri dan dengan lingkungan. menurut sigmund freud sendiri orang shaleh adalah orang yang mampu menekan atau merepresikan implus-implusnya, namun pendosa adalah orang yang menikmati implus-implusnya. Jadi, bagaiman dengan mu??
wallahua'lam......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar