Budaya atau
kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan
bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang
berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan
disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau
mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata
culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.[1]
Kebudayaan
didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial
yang digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan
pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya. Dengan demikian,
kebudayaan merupakan serangkaian aturan-aturan, petunjuk-petunjuk,
rencana-rencana, dan strategi-strategi yang terdiri atas serangkaian
model-model kognitif yang dipunyai oleh manusia, dan digunakannya secara
selektif dalam menghadapi lingkungannya sebagaimana terwujud dalam tingkah-laku
dan tindakan-tindakannya.
Kebudayaan
dapat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan pengetahuan manusia sebagai
makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan
dan pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya. Suatu kebudayaan
merupakan milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial,
yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan pewarisannya kepada generasi
berikutnya dilakukan melalui proses belajar dan dengan menggunakan
simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak
(termasuk juga berbagai peralatan yang dibuat oleh manusia).
Dengan
demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai
kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya,
disebabkan oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena
lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama.
Kebudayaan
nasional yang berlandaskan Pancasila
adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia
Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta
diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam
segenap bidang kehidupan bangsa.
Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan
pembangunan yang berbudaya.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wujud, Arti
dan Puncak-Puncak Kebudayaan Lama dan Asli bagi Masyarakat Pendukungnya.
Sebuah persoalan
dalam bidang budaya yang masih mendesak pemahaman kita ialah mengapa kebudayaan
Indonesia sejak tahun 1980-an berada dalam keadaan kurang menggembirakan, ia
semakin tergeser, tergusur, dan tersingkir dari pusat dan puncak perhatian dan
kesibukan kita sehari-hari. Ini memang bukan persoalan baru, dan memang sudah
ramai di perbincangkan pada awal 1980-an. [2]
Meninjau permasalahan
kebudayaan diatas menjelaskan bahwa banyak budaya bangsa Indonesia yang hilang
ditelan oleh tekhnologi dan pengaruh dari negara lain, seperti hilanganya lagu
rasa saying-sayange yang diklaim orang malaysia, hilangnya desain grafis
perak yang asli dari bali, diklaimnya tarian reog ponorogo dengan tarian
barongan malaysia, produksi tempe yang diklaim oleh warga negara jepang,
serta hilangnya makanan asli Indonesia oleh makanan luar negeri.
Musim temu
budaya daerah sebagai penyangga budaya nasional bermunculan diberbagai kota
seakan-akan budaya kita pada masa ini menghadapi kemunduran biarpun seorang
pakar budaya masih penting. Seorang pakar budaya pada masa pra-Orde baru
mungkin seperti seorang Iwan Fals, Abdurrahman Wahid, atau Laksamana Soedomo.
Pada tahun 1970-an orang sudah mengeluh tentang kebudayaan, tapi pada waktu itu
masih ada hiruk-pikuk perdebatan dan persaingan yang tak banyak tersisa.
Sejauh itu
masih ada yang perlu di pertanyakan terhadap kesadaran akan wawasan Nusantara
yang kadang masih diselimuti oleh chauvinis kedaerahan dan kebudayaan yang pada
akhir-akhir ini akan kembali berona sejarah seperti ketika berkecamuknya masa
renaisance dan aufklarung di benua barat tiga abad yang lalu. Apabila dengan
kian terasanya arus globalisasi peradaban masyarakat industri maju, yang
mengandalkan materialisme dan membawa wabah konsumerisme, penggusuran mau tak
mau pasti terjadi. Banyak sendi budaya yang ditinggalkan.
Pejabat
pemerintah yang punya kompetisi dengan kesenian tradisional supaya citra negara
terangkat dimata dunia dan pencaturan International, masih berdiri dengan
perjanjian (konvensi) lama, negara dan pejabat negera hanya memfungsikan
kesenian Indonesia untuk kepentingan praktis, karena titik tolak pandangan dan
sikapnya masih pada batas bahwa kesenian tradisional dan modern adalah
instrumen kegiatan ritual.
Hal itu tidak
membutuhkan perhatian dalam porsi yang besar, yang sama dengan sektor-sektor
kehidupan lain tidakkah jatah untuk kebudayaan hanya 2,7 persen dari rancangan
Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) pada berita terakhir.
Kebudayaan
masih dianggap instrumen yang berfungsi praktis, umpamanya untuk tujuan
pelancongan (turisme) bagi peningkatan sumber devisa negara, para seniman yang
mengembangkan etos kebudayaan masih bergulat dengan banyak pihak kearah
perbaikan kesenian Indonesia di masa depan. Raudal Tanjung Banua mengatakan,
bahwa tataran kebudayaan dengan kemungkinan nasionalisme kebudayaan tidak
terlalu digali, bahkan cenderung dinibsikan.
Akan tetapi
dari proyek nasionalisme yang mengutamakan arus negara itu, bangsa-bangsa
diringkus menjadi sekedar suku bangsa. Kesalahpahaman seperti itu, merupakan
akibat dominasi tradisi romantisme yang terlalu menekankan aspek individual
budayawan dan nilainya. Mengabaikan kebudayaan sebagai pranata sosial. menyebut
nasib pranata kebudayaan dianggap sebagai serangan pribadi terhadap para
budayawan.
Akibatnya,
budayawan yang berwawasan sempit menyangkal terjadinya gejala pengkerdilan dan
penggusuran kebudayaan dalam pembangunan. Karena merasa di serang, mereka
membela diri dan membela status quo dengan mengatakan kebudayaan sekarang baik-
baik saja, kalau ada penilaian yang negatif atas perkembangan budaya, maka itu
di anggap sebagai kegagalan atau ketololan para kritikus budaya yang kurang paham
kepada kebudayaan.
Menindaklanjuti
hal seperti ini seharusnya bangsa Indonesia harus melakukan suatu hal yang
masih bisa mempertahankan kebudayaan yang asli dari orang indnesia yang harus
dijaga sampai akhir hayat. Dan hal yang seperti inilah yang masih ditunggu oleh
bangsa indonesia agar tidak terjadi pergeseran pemikiran dan beralih dari
kebudayaan asli Indonesia.
[1]
Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional,
Kongres Kebudayaan 1991: Kebudayaan Nasional Kini dan di Masa Depan
[2]
Indonesian Geography http://countrystudies.us/indonesia/28.htm
Tidak ada komentar:
Posting Komentar