“...Soeharto adalah seorang ahli
strategi yang handal. Tetapi ia bukan seorang ‘grand master’ yang mampu
menghitung 10-15 langkah ke depan di papan catur. Ia lebih banyak beruntung
karena piawai memanfaatkan kesempatan...”(Dr. Asvi Warman Adam). Salah satu
pengamat sosial yang mengatakan bahwa supersemar adalah surat pemberontakan
sebelas maret.
Tepatnya pada tanggal 11 Maret 1966
kontroversi seputar Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966 seakan tidak
pernah ada habisnya dibicarakan. Banyak yang menggugat bahwa Supersemar yang
ditandangani oleh presiden Soekarno pada dini hari tersebut sebenarnya adalah
surat mandat yang diberikan kepada Soeharto untuk mengamankan keadaan negara
yang sedang gawat. Memang pada waktu itu kondisi sosial-politik sedang kacau
balau pascapemberontakan G30 S/PKI. Karena itu, seharusnya Soeharto menyerahkan
kembali mandat tersebut kepada presiden Soekarno setelah selesai menjalankan
tugas.[1]
Namun yang terjadi justru tidak
demikian. Sekenario untuk menjatuhkan presiden Soekarno ternyata sudah
direncanakan matang-matang. Des Alwi – mantan anggota Dewan Banteng pencetus
PRRI yang juga dianggap sebagai gerakan separatis – adalah tokoh di balik layar
yang berperan penting dalam peristiwa tersebut. Ia tidak hanya lihai dalam
melakukan rekayasa penandatanganan Supersemar. Akan tetapi kepandaiannya dalam
mempengaruhi MPR/DPR untuk mengangkat Soeharto sebagai presiden RI dengan
menggunakan mandat yang disalahgunakan tersebut, merupakan “strategi jitu” yang
terbukti “keampuhannya” dalam jangka waktu yang sangat panjang.
Soeharto sendiri disini dianggap
sebagai The Living Legend karena kepiawaiannya sebagai kostrad TNI-AD
yang mampu menyusun strategi untuk meluruskan semua rencananya dan Soeharto
dianggap sebagai orang yang berhasil pada saat itu karena mampu untuk mengambil
kesempatan yang brilliant.
Di sinilah kita melihat sosok
Soeharto sebagai aktor di balik terjadinya peristiwa-peristiwa bersejarah yang
telah dibengkokkan sedemikian rupa, termasuk di dalamnya adalah peristiwa
Supersemar yang kontroversial itu.
“pertarungan sejarah” yang
senantiasa menghasilkan kekalahan dan kemenangan. Dalam konteks ini, Soeharto
adalah salah satu pihak yang keluar sebagai pemenang (juara) dan berhak
mendapatkan gelar sebagai The Living Legend. Sedangkan Soekarno hanya
kurang beruntung karena sejatinya ia “kalah” dalam sebuah pertarungan yang
diwarnai dengan kecurangan.
Kejeniusan Soeharto dalam upayanya menggulingkan presiden Soekarno
sebenarnya hanya terletak pada kepiawaiannya dalam memanfaatkan sekecil apa pun
setiap kesempatan. Instabilitas sosial-politik pascaserangan G30S/PKI,
misalnya, dijadikan sebagai kesempatan emas untuk memaksa presiden Soekarno
membuat dan menandatangani Supersemar sebagai surat mandat. Tetapi
“keterpaksaan” presiden Soekarno dalam konteks ini bukan menunjukkan betapa ia
sangat lemah, tidak pandai, dan kerdil dalam menghadapi serangan dari musuh
yang tidak lain adalah anak buahnya sendiri. Sebab posisi Soekarno pada waktu
itu benar-benar tertekan, ditodong, dan berada dalam kondisi “keterkepungan”
yang memang sudah direkayasa sebelumnya.[2]
Peristiwa sejarah ini mungkin ruang gelap dibulan maret 1966 silam,
karena banyak menyisakan kisah yang masih bertanda tangan besar untuk Indonesia
ini. Karena pelaku sejarahnya sudah tidak ada lagi yang bisa diminta
pertanggungjawaban lagi.
Banyak sekali pertentangan di peristiwa ini oleh sebab itu dengan
harapan penuh penulis agar semua pembaca untuk memahami apa sebenarnya yang
terjadi diindonesia karena memang sangat hangat bila diperbincangan. Semoga
tuhan membuka mata hati kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar