Kenapa?
lagi-lagi saya terkena sifat diskriminasi, sebenarnya sifat yang diberikan
tuhan kepda saya ini malas atau tawakkal ya?, saya tuh nggak habis pikir,
masalahnya kemalasan itu dibungkus rapi dengan tawakkal. keren banget, yang
saya pikir sebenarnya itu sifat malas atau sebuah nasi goreng kok sampai bisa
dibungkus seperti itu, sampai-sampai saya itu bingung dan tidak bisa membedakan
mana yang dinamakan malas dan mana yang dinamakan tawakkal.
Ngomong masalah malas ya, saya
banget, beneran sumpah, memang kalau saya malas itu masalah buat kalian? gak
juga kan. saya ini orang yang paing malas, pemalas banget, sangat malas untuk
(tidak) melakukan ibadah kepada tuhan, dan masih banyak kemalasan saya yang
tidak bisa disebutkan satu persatu. (sombong banget kan seperti calon
walikota).
Yang bikin saya senang adalah
beruntung sekali kemalasan saya tidak seperti kemalasan anak muda zaman sekarang. seumpama sama pastinya
sudah banyak pacar-pacar saya yang hamil dan menggugurkan kandungannya, jadi
pengen nangis melihat kemalasan anak muda zaman sekarang (filmnya haru ya jadi
keluar air mata). mangkanya itu meskipun saya itu orangnya kecil dan selalu
terkena diskriminasi, tapi saya itu bangga masih disayang sama tuhan.
Malas ini masih ada sangkut pautnya
dengan kuliah, saya kalau mendengar kata-kata kuliah jadi malas sekali,
pengennya sih sekolah aja terus biar wajah itu tetap kecil, indah dilihat dan
yang pasti unyu-unyu dan lebay. namun karena tuntutan usia jadinya harus
kuliah dan itu tawakkal juga kan jadinya? kalau seperti itu bagaimana saya
tidak emosi, asal kalian tahu saja, kuliah itu ibaratnya bunglon, cuma
kamuflase, fatamorgana, semuanya semu dan tidak nyata. kalau sekolah kan
konkrit, tawuran oke, bolos oke, lulus tepat waktu oke juga.
Bagaimana tidak dikatakan kamuflase,
saya kalau lihat orang-orang yang di televisi itu kuliahnya enak banget. yang
laki-laki boleh rambutnya panjang, celananya bolong-bolong dan pakai
kaos oblong, tapi setelah saya telaah kembali itu mau kuliah apa mau ngamen
di bus kota ya? trus kemudian yang perempuan nih selalu pakai baju ketat,
celana ketat, sampai masalah kerudung itu ketat juga, yang menjadi pertanyaan
saya sekarang perempuan seperti itu niatnya kuliah atau mau bunuh diri
sebenarnya? takutnya nanti diindonesia ini bukan hanya da istilah bom bunuh
diri tapi ada istilah baru yang mengatakan baju bunuh diri. dan lama kelamaan
Indonesia dijuluki dengan negara bunuh diri, hilang semua kan rakyatnya.
(mungkin prustasi gara-gara banyak hutang).
iya bagaimana untuk tidak mencoba
bunuh diri memakai pakaian yang ketat seperti itu, apa bisa bernafas, atau
kalau tidak seperti itu berarti perempuan kayak gitu mencoba merasakan
hangatnya neraka, keren banget perempuan-perempuan itu ya, (semoga banyak yang
meniru dan menjadi rezeki bagi kaum laki-laki).
Dan yang bikin kesel lagi lihat anak
kuliahan di televisi itu mereka selalu jalan berduaan kalau gak laki-laki sama
perempuan ya laki-laki sama laki-laki atau kalau gak gitu perempuan sama
perempuan, sumpah ngeselin, trus nasibnya yang jomblo kayak saya gimana coba?
sungguh diskriminasi. untungnya dikampus mereka tidak ada yang namanya SPI
(Satpam Pembela Islam) saya yakin pasti kena grebek semua mereka, bahkan kalau
ada serangan fajar tiba-tiba kampusnya tuh besok sudah masuk berita akibat ada
pengeboman.
Kalau ngampus seperti itu
saya juga mau, enak banget. yang jadi permasalahan saya dikampus saya itu
kenapa tidak seperti di televisi, saya jadi nyesel masuk kuliah. padahal dulu
saya niat kuliah biar bisa seperti itu, biar bisa keren, bisa macho, bisa gaul
bahkan bisa nggaulin anak orang, ujung-ujungnya kena tipu juga kan saya. tapi
saya tetap menerima lah karena saya kan warga Indonesia yang baik, dan ini
adalah cara untuk meningkatkan rasa tawakkal saya kepda agama saya. tapi sya
tetap kesal, karena dikampus saya itu perempuannya seperti elien mereka tidak
punya rambut sama telinga dan kepalanya berwarna, jadi malas kan kalau masuk
kuliah.
tidak cuma perempuan saja,
laki-lakinya pun juga seperti itu, mereka kayak orang klasik gitu rasanya, sok
sopan, kalau dijalan itu selalu merunduk, tapi sambil lihat handphone.
yang jadi pertanyaan adalah perilaku seperti itu sebenarnya sopan atau autis
ya? sampai segitunya, sopan ya sopan sih tapi lihat orang disekelilingnya dong!
oleh sebab itu saya itu malas kuliah jadinya, coba saja kalau dikampus saya itu
kaya di televisi gitu. pasti saya lebih memilih jadi Satpamnya daripada jadi
mahasiswanya.
Saya milih jadi satpam soalnya saya
analogikan seperti ini, kalau mahasiswanya melakukan hal-hal yang berbau blue
pastinya bayar kan, entah itu bayar tempatnya ataupun bayar yang lainnya
intinya kan bayar, tapi kalau satpam yang mempergoki mahasiswanya melakukan
hal-hal yang berbau blue pastinya akan dibayar kan sama mahasiswanya ”udah
lah pak satpam, damai yah” pasti mahasiswanya bilang gitu, mangkanya itu
zaman sekarang itu banyak yang nyalon jadi satpam walaupun cuma cadangan satpam
(kayak sepak bola dong).
dan yang terakhir saya baru ingat
kalau ngomongin masalah malas. saya jadi ingat teman saya yang mempunya motor
merk honda 800, motornya pemalas banget, penyabar juga. gimana gak malas, mau
ngebut aja tidak bisa, mesinnya sudah tua, dan kalaupun bisa ngebut kasihan
motor-motor yang masih muda dan masih laku dizaman sekarang, nanti dikira
mengajarkan kepada yang muda, motor tua motor tua, malang sekali nasibmu,
mangkanya jangan mau jadi tua.
Saat
itu kan teman saya dari rumah kekampus naik motor malas itu, motornya kan
dinamakan Indonesia, entah kenapa sampai motornya itu dinamakan Indonesia, apa
memang Indonesia sudah tua? kemudian ditengah perjalanan siIndonesia ini mogok,
akhirnya sama teman saya dibawa ke bengkel motor. sesampai disana montirnya
songong, teman saya kan bilang "mas ini si Indonesia lagi mogok, tolong di
servis ya mas, soalnya saya buru-buru mau kuliah", eh montirnya dengan
santai jawab seperti ini "yaudah kamu kuliah saja, lhawong motor aja gak
ngurus kamu, kenapa kamu ngurus motor" montir indonesia nih songong
banget. habis bilang gitu montirnya tanya, "mas, motornya namanya
Indonesia ya?" teman saya jawab "iya mas namanya indonesia", dan
terakhir adalah jawaban montir yang paling jengkelin, "waduh mas maaf
Indonesia sudah rusak jadi gak bisa diservis" (kenapa orang kayak gini
masih hidup didunia ini), saya Luqman Hakim terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar