Jumat, 24 Januari 2014

Malas = Tawakkal

Kenapa? lagi-lagi saya terkena sifat diskriminasi, sebenarnya sifat yang diberikan tuhan kepda saya ini malas atau tawakkal ya?, saya tuh nggak habis pikir, masalahnya kemalasan itu dibungkus rapi dengan tawakkal. keren banget, yang saya pikir sebenarnya itu sifat malas atau sebuah nasi goreng kok sampai bisa dibungkus seperti itu, sampai-sampai saya itu bingung dan tidak bisa membedakan mana yang dinamakan malas dan mana yang dinamakan tawakkal.
            Ngomong masalah malas ya, saya banget, beneran sumpah, memang kalau saya malas itu masalah buat kalian? gak juga kan. saya ini orang yang paing malas, pemalas banget, sangat malas untuk (tidak) melakukan ibadah kepada tuhan, dan masih banyak kemalasan saya yang tidak bisa disebutkan satu persatu. (sombong banget kan seperti calon walikota).
            Yang bikin saya senang adalah beruntung sekali kemalasan saya tidak seperti kemalasan anak  muda zaman sekarang. seumpama sama pastinya sudah banyak pacar-pacar saya yang hamil dan menggugurkan kandungannya, jadi pengen nangis melihat kemalasan anak muda zaman sekarang (filmnya haru ya jadi keluar air mata). mangkanya itu meskipun saya itu orangnya kecil dan selalu terkena diskriminasi, tapi saya itu bangga masih disayang sama tuhan.
            Malas ini masih ada sangkut pautnya dengan kuliah, saya kalau mendengar kata-kata kuliah jadi malas sekali, pengennya sih sekolah aja terus biar wajah itu tetap kecil, indah dilihat dan yang pasti unyu-unyu dan lebay. namun karena tuntutan usia jadinya harus kuliah dan itu tawakkal juga kan jadinya? kalau seperti itu bagaimana saya tidak emosi, asal kalian tahu saja, kuliah itu ibaratnya bunglon, cuma kamuflase, fatamorgana, semuanya semu dan tidak nyata. kalau sekolah kan konkrit, tawuran oke, bolos oke, lulus tepat waktu oke juga.
            Bagaimana tidak dikatakan kamuflase, saya kalau lihat orang-orang yang di televisi itu kuliahnya enak banget. yang laki-laki boleh rambutnya panjang, celananya bolong-bolong dan pakai kaos oblong, tapi setelah saya telaah kembali itu mau kuliah apa mau ngamen di bus kota ya? trus kemudian yang perempuan nih selalu pakai baju ketat, celana ketat, sampai masalah kerudung itu ketat juga, yang menjadi pertanyaan saya sekarang perempuan seperti itu niatnya kuliah atau mau bunuh diri sebenarnya? takutnya nanti diindonesia ini bukan hanya da istilah bom bunuh diri tapi ada istilah baru yang mengatakan baju bunuh diri. dan lama kelamaan Indonesia dijuluki dengan negara bunuh diri, hilang semua kan rakyatnya. (mungkin prustasi gara-gara banyak hutang).
            iya bagaimana untuk tidak mencoba bunuh diri memakai pakaian yang ketat seperti itu, apa bisa bernafas, atau kalau tidak seperti itu berarti perempuan kayak gitu mencoba merasakan hangatnya neraka, keren banget perempuan-perempuan itu ya, (semoga banyak yang meniru dan menjadi rezeki bagi kaum laki-laki).
            Dan yang bikin kesel lagi lihat anak kuliahan di televisi itu mereka selalu jalan berduaan kalau gak laki-laki sama perempuan ya laki-laki sama laki-laki atau kalau gak gitu perempuan sama perempuan, sumpah ngeselin, trus nasibnya yang jomblo kayak saya gimana coba? sungguh diskriminasi. untungnya dikampus mereka tidak ada yang namanya SPI (Satpam Pembela Islam) saya yakin pasti kena grebek semua mereka, bahkan kalau ada serangan fajar tiba-tiba kampusnya tuh besok sudah masuk berita akibat ada pengeboman.
            Kalau ngampus seperti itu saya juga mau, enak banget. yang jadi permasalahan saya dikampus saya itu kenapa tidak seperti di televisi, saya jadi nyesel masuk kuliah. padahal dulu saya niat kuliah biar bisa seperti itu, biar bisa keren, bisa macho, bisa gaul bahkan bisa nggaulin anak orang, ujung-ujungnya kena tipu juga kan saya. tapi saya tetap menerima lah karena saya kan warga Indonesia yang baik, dan ini adalah cara untuk meningkatkan rasa tawakkal saya kepda agama saya. tapi sya tetap kesal, karena dikampus saya itu perempuannya seperti elien mereka tidak punya rambut sama telinga dan kepalanya berwarna, jadi malas kan kalau masuk kuliah.
            tidak cuma perempuan saja, laki-lakinya pun juga seperti itu, mereka kayak orang klasik gitu rasanya, sok sopan, kalau dijalan itu selalu merunduk, tapi sambil lihat handphone. yang jadi pertanyaan adalah perilaku seperti itu sebenarnya sopan atau autis ya? sampai segitunya, sopan ya sopan sih tapi lihat orang disekelilingnya dong! oleh sebab itu saya itu malas kuliah jadinya, coba saja kalau dikampus saya itu kaya di televisi gitu. pasti saya lebih memilih jadi Satpamnya daripada jadi mahasiswanya.
            Saya milih jadi satpam soalnya saya analogikan seperti ini, kalau mahasiswanya melakukan hal-hal yang berbau blue pastinya bayar kan, entah itu bayar tempatnya ataupun bayar yang lainnya intinya kan bayar, tapi kalau satpam yang mempergoki mahasiswanya melakukan hal-hal yang berbau blue pastinya akan dibayar kan sama mahasiswanya ”udah lah pak satpam, damai yah” pasti mahasiswanya bilang gitu, mangkanya itu zaman sekarang itu banyak yang nyalon jadi satpam walaupun cuma cadangan satpam (kayak sepak bola dong).
            dan yang terakhir saya baru ingat kalau ngomongin masalah malas. saya jadi ingat teman saya yang mempunya motor merk honda 800, motornya pemalas banget, penyabar juga. gimana gak malas, mau ngebut aja tidak bisa, mesinnya sudah tua, dan kalaupun bisa ngebut kasihan motor-motor yang masih muda dan masih laku dizaman sekarang, nanti dikira mengajarkan kepada yang muda, motor tua motor tua, malang sekali nasibmu, mangkanya jangan mau jadi tua.
            Saat itu kan teman saya dari rumah kekampus naik motor malas itu, motornya kan dinamakan Indonesia, entah kenapa sampai motornya itu dinamakan Indonesia, apa memang Indonesia sudah tua? kemudian ditengah perjalanan siIndonesia ini mogok, akhirnya sama teman saya dibawa ke bengkel motor. sesampai disana montirnya songong, teman saya kan bilang "mas ini si Indonesia lagi mogok, tolong di servis ya mas, soalnya saya buru-buru mau kuliah", eh montirnya dengan santai jawab seperti ini "yaudah kamu kuliah saja, lhawong motor aja gak ngurus kamu, kenapa kamu ngurus motor" montir indonesia nih songong banget. habis bilang gitu montirnya tanya, "mas, motornya namanya Indonesia ya?" teman saya jawab "iya mas namanya indonesia", dan terakhir adalah jawaban montir yang paling jengkelin, "waduh mas maaf Indonesia sudah rusak jadi gak bisa diservis" (kenapa orang kayak gini masih hidup didunia ini), saya Luqman Hakim terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar